Showing posts with label tokoh kiri. Show all posts
Showing posts with label tokoh kiri. Show all posts

Friday, August 5

Narkoba dan Penegagakan Hukuman Mati




Image result for hukuman mati narkoba
Dalam beberapa tahun belakangan ini, issu yang mencuat di beberapa media elektronik, maupun cetak mengenai eksekusi mati 10 terpidana hukuman mati dalam kasus pengedaran narkoba, dari 10 terpidana hukuman mati hanya 4 orang yang telah di eksekusi mati tersemasuk salah satunya adalah fredy budiman. Hukuman mati ini di publikasikan di media-media sehingga respon publik pun bermunculan dengan berbagai komentar tentang adaya hukuman mati yang berlaku di indonesia yang terkena kasus narkoba, dan kasus teroris.
Bagikan Ki Bro:

Saturday, September 20

M.H. Lukman, Hikayat Seorang Anggota Dewan

MH LukmanDengan anugerah berupa akal dan hati yang diberi Tuhan di bumi Indonesia, makilah orang-orang komunis sebagai dajjal di atas dajjal. Jangan sia-siakan umur dengan toleransi yang longgar agar paham orang-orang komunis yang tak bertuhan itu dapat hidup kembali di bumi Pancasila; walau mereka keluarga kiai haji dan menjalankan wiridan tiap hari.

Tak cukup disembelih, bahkan ketika mati tanpa kubur dan jasad pun orang-orang komunis masih perlu dituntut pertanggungjawabannya. Tanggung jawab apa? Mungkin terbalik. Lebih tepatnya ucapan terima kasih yang berzirah tuntutan pertanggungjawaban karena telah menjadi tumbal untuk berdirinya sebuah orde yang dipanggul oleh serdadu-serdadu yang tak pernah memenangi perang.
Bagikan Ki Bro:

Tuesday, May 13

Biografi Singkat Alimin bin Prawirodirdjo


Alimin bin Prawirodirdjo (Solo1889-Jakarta24 Juni 1964). adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunisIndonesia. Berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26 – 6 - 1964, Alimin tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional IndonesiaSejak remaja Alimin telah aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, sebelum bergabung dengan PKI dan akhirnya menjadi pimpinan organisasi tersebut. Ia juga adalah salah seorang pendiri Sarekat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).

Pada awal 1926, sebagai pimpinan PKI Alimin pergi ke Singapura untuk berunding dengan Tan Malaka dalam rangka menyiapkan pemberontakan. Tapi sebelum Alimin pulang, pemberontakan sudah meletus 12 November 1926. Alimin dan Musso ditangkap oleh polisi Inggris. Setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow dan bergabung dengan Komintern. Alimin tidak lama di sana karena bertemu dengan Ho Chi Minh dan diajak ke Kanton (Guangzhou). Pada saat itu ia terlibat secara ilegal untuk mendidik kader-kader komunis di VietnamLaos, danKamboja untuk melawan penjajah dan merebut kemerdekaan dari jajahan Perancis. Ketika Jepang melakukan agresi terhadap Cina, Alimin pergi ke daerah basis perlawanan di Yenan dan bergabung bersama tentara merah di sana. Ia pulang ke Indonesia pada tahun 1946, yaitu setelah Republik Indonesia diproklamasikan. Ketika DN Aidit mendirikan kembali PKI secara legal pada awal tahun 1950-an dan kemudian menjadi Ketua Komite Sentralnya, Alimin termasuk tokoh komunis yang tidak diindahkannya. Namun Alimin masih banyak didatangi oleh para pengikutnya sampai dengan saat meninggalnya pada tahun 1964.

Alimin adalah sosok yang aktif dalam pergerakan nasional sejak muda, ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Insulinde dan juga salah seorang pendiri Serikat Buruh Pelabuhan (dulu namanya Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan).

Alimin Prawirodirdjo juga menjadi tokoh yang berpengaruh dalam Serikat Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905 dengan nama Serikat Dagang Islam. Sebagai satu-satunya gerakan massa yang terkuat, SI menjadi target operasi ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging / Organisasi Demokrat Hindia Belanda) untuk dapat mengusai massa dan menyebarkan paham marxisme dalam politik Indonesia, terlebih setelah kemenangan Revolusi Oktober di Rusia pada tahun 1917. 

Tanggal 23 Mei 1920 ISDV berubah menjadi PKI Partai Komunis Indonesia / Partij der Kommunisten in Indie . Alimin bergabung dengan SI Merah yang berasas sosialis komunis pada saat SI pecah menjadi 2, "SI Putih" yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta dan "SI Merah” yang,dipimpin Semaoen berhaluan kiri berpusat di kota Semarang.

Alimin juga memperkuat PKI bersama dengan Musso (dari PKI cabang Jakarta) dalam kelompok Prambanan bersama dengan tokoh terkemuka PKI lainnya seperti Semaun dan Darsono yang mendeklarasikan rencana pemberontakan di Prambanan, Solo, awal 1926 dengan target menangkap dan membunuh pejabat pemerintahan baik pejabat pribumi maupun pejabat kulit putih dan juga merusak symbol rezim colonial termasuk instalasi publik dan instalasi batu bara.
Awal 1926 Alimin selaku pimpinan PKI pergi ke Singapura untuk bertemu Tan Malaka dengan agenda persiapan pemberontakan, 12 November 1926 sebelum Alimin pulang ke Indonesia pemberontakan di Jakarta meletus disusul dengan tindakan kekerasan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemberontakan di Sumatra Barat juga meletus pada 1 Januari 1927. Pemberontak tersebut dapat dipatahkan kolonial di Batavia. PKI pun dinyatakan sebagai organisasi. Sampai 12 Januari 1927, ratusan bom dan senjata api disita, lebih dari 1.300 orang ditangkap dan dibuang ke luar Sumatera Barat, termasuk ke Digul, ada pula yang dihukum gantung, sedangkan Alimin dan Musso ditangkap oleh polisi Inggris.
Tahun 1926 pasca pemberontakan, setelah ia keluar dari penjara, Alimin pergi ke Moskow, Uni Soviet untuk bergabung dengan Komintern (organisasi komunis internasional) dan Ho Chi Minh pemimpin partai komunis Vietnam untuk melawan Amerika Serikat. Ketika Jepang melakukan agresi terhadap Cina, Alimin pun ikut bergabung bersama tentara merah di daerah basis perlawanan di Yenan.
Alimin pulang ke Indonesia setelah Republik Indonesia diproklamasikan. Pada tahun1946, kembali bergabung dengan PKI yang ada di bawah kendali triumvirat Aidit-Njoto-Lukman. Alimin sudah tersingkirkan dari kepemimpinan partai tetapi masih banyak didatangi oleh para pengikutnya.
“Razia Agustus 1951” pemerintah Sukiman melakukan razia menangkap Alimin bersama dengan D.N. Aidit, Lukman, Nyoto, Alimin dll termasuk juga beberapa tokoh Masyumi yaitu: M. Isa Anshary, K.H. Abdul Halim dan K.  Hassan karena diduga gerakan pengacau DI/TII di Jawa barat dan dianggap bertanggung jawab atas terjadi pemogokan para buruh menentang Peraturan Militer anti mogok dan menuntut bonus lebaran (13 Februari, Juni, Juli dan awal Agustus 1951). Kabinet Sukiman akhirnya jatuh dengan disetujuinya mosi dari Mr. Djodi Gondokusumo oleh parlemen yang menolak MSA (Matual Security Act: Pemerintahan Sukiman mendapatkan bantuan militer oleh Amerika Serikat ketika terjadi pemogokan dan kerusuhan).
Tahun 1959 Alimin sebagai anggota konstituante juga ikut dalam penetapan Undang Undang NKRI yang akhirnya dikembalikan ke UUD 1945 lewat Dekrit Presiden yang dibacakan Presiden Soekarno Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00, dalam upacara resmi di Istana Merdeka. Saat usianya sudah lanjut Alimin mendapatkan posisi sebagai Sekretaris Propaganda.

Sumber: http://profil.merdeka.com/
               http://id.wikipedia.org/wiki/Alimin

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Biografi Singkat Muso Manowar

Musso atau Paul Mussotte bernama lengkap Muso Manowar atau Munawar Muso (lahir: KediriJawa Timur1897 - Madiun,Jawa Timur31 Oktober 1948) adalah seorang tokoh komunis Indonesia yang memimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) pada era 1920-an dan dilanjutkan pada Pemberontakan Madiun 1948.

Musso adalah salah satu pemimpin PKI di awal 1920-an. Dia adalah pengikut Stalin dan anggota dari Internasional Komunis di Moskwa. Pada tahun 1925 beberapa orang pemimpin PKI membuat rencana untuk menghidupkan kembali partai ini pada tahun 1926, meskipun ditentang oleh beberapa pemimpin PKI yang lain seperti Tan Malaka. Pada tahun 1926 Musso menuju Singapura dimana dia menerima perintah langsung dari Moskwa untuk melakukan pemberontakan kepada penjajah Belanda. Musso dan pemimpin PKI lainnya, Alimin, kemudian berkunjung ke Moskwa, bertemu dengan Stalin, dan menerima perintah untuk membatalkan pemberontakan dan membatasi kegiatan partai menjadi dalam bentuk agitasi dan propaganda dalam perlawananan nasional. Akan tetapi pikiran Musso berkata lain. Pada bulan November 1926 terjadi beberapa pemberontakan PKI di beberapa kota termasuk Batavia (sekarang Jakarta), tetapi pemberontakan itu dapat dipatahkan oleh penjajah Belanda. Musso dan Alimin ditangkap. Setelah keluar dari penjara Musso pergi ke Moskwa, tetapi kembali ke Indonesia pada tahun 1935 untuk memaksakan "barisan populer" yang dipimpin oleh 7 anggota Kongres Komintern. Akan tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke Uni Soviet pada tahun 1936.

Pada 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Indonesia lewat Yogyakarta. Pada tanggal 5 September 1948 dia memberikan pidato yang menganjurkan agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Pemberontakan terjadi di MadiunJawa Timur ketika beberapa militan PKI menolak untuk dilucuti. Pihak militer menyebutkan bahwa PKI memproklamasikan "Republik Soviet Indonesia" pada tanggal 18 September 1948 dan mengangkat Musso sebagai presiden dan Amir Sjarifuddinsebagai perdana menteri. Akan tetapi pemberontakan dapat dipadamkan oleh pihak militer. Pada tanggal 30 September 1948, Madiun direbut oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan sejumlah 36.000 orang dipenjarakan. Di antara yang terbunuh adalah Musso pada tanggal 31 Oktober, ketika rombongannya bertemu dengan pasukan TNI yang memburunya.

Bagi yang masih ingat pelajaran Sejarah semasa sekolah pasti masih ingat dengan “Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948” yang dipimpin oleh Muso. Tokoh kelahiran Kediri tahun 1897 ini amat ditakuti karena bersama pengikutnya pernah membantai banyak orang di Madiun yang tidak mau mengikuti ideologinya. Nah, fakta yang menarik adalah ternyata Muso  adalah keturunan pendiri Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Ia adalah anak dari KH Hasan Muhyi yang menikah dengan Nyai Juru.

Sebagai anak seorang kiai dan berada di lingkungan pesantren sejak kecil, tentu saja Muso kecil rajin nyantri. Cerita ini disampaikan oleh KH Mohammad Hamdan Ibiq, pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu, Kediri. Menurut Gus Ibiq, sapaan Hamdan Ibiq, Muso selain masih keluarganya, juga pernah nyantri layaknya putra para kiai, penuturan ini berdasarkan cerita dari para leluhurnya.

“Tidak disebutkan jelas di mana dia nyantri, tapi berdasarkan keterangan kakek buyut saya, Musso merupakan anak yang cerdas kala dia nyantri," kata Gus Ibiq.

Hingga sekarang, pihak keluarga meyakini bahwa apa yang dilakukan Muso dengan gerakannya itu lebih pada pilihan politik, bukan ideologis. "Saya kira dia paham agama, apa yang dia lakukan semata untuk melawan Belanda,” tambah Gus Ibiq.


Pemimpin PKI 1920
Adapun makam pendiri pesantren, KH Hasan Muhyo dan Nyai Juru  keduanya berada di kompleks Pondok Pesantren Kapurejo  yang berjarak 200 meter dari lokasi pesantren induk ke arah belakang. Makam KH Hasan Muhyi berjajar di antara makam keluarga lainnya, sedangkan makam Nyai Juru berada lebih atas dengan nisan batu layaknya nisan orang kuno. Ini adalah makan keluarga.

Posisi makam yang berbeda ternyata disebabkan Nyai Juru lebih dahulu meninggal dibandingkan KH Hasan Muhyi. Sebab berdasarkan silsilah keluarga KH Hasan Muhyi menikah sebanyak tiga kali.

Dari makam kedua orangtua Muso, dilakukan penelusuran menuju Desa Jagung yang berjarak kurang lebih 4 Km dari Ponpes Kapurejo dengan tujuan mencari rumah peninggalan orang tua Muso. Sebuah fakta mengejutkan, rumah di ujung desa tersebut  sudah lenyap dan terganti dengan rumah-rumah baru sejak 5 tahun lalu. Sebab digambarkan sebelumnya rumah orang tua Muso adalah rumah berbentuk rumah tradisional srotong atau doro gepak yang terbuat dari kayu jati.


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Saturday, November 16

10 Tokoh Yang Mempengaruhi Pemikiran Bung Karno

1. Karl Marx

Dalam usia belasan tahun, saat mondok di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya, ia sudah mengenal Karl Marx. Selain itu, di rumah itu juga ia berkenalan dengan Alimin dan Musso, yang memperkenalkan pada dirinya ajaran marxisme.

Pengaruh Marx terhadap Bung Karno sangat besar. Di tahun 1933, Bung Karno menulis artikel di Fikiran Ra’jat berjudul Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx. Di situ ia mengapresiasi kontribusi teoritik Marx dalam perjuangan klas pekerja dan kaum terhisap. Bahkan, menurut Bung Karno, perkawinan antara marxisme dan nasionalisme di dunia timur telah melahirkan nasionalisme yang baru.

Lalu, dalam artikel Menjadi Pembantu Pemandangan: Bung Karno, oleh…Bung Karno sendiri, yang dimuat di majalah Pemandangan, tahun 1941, Bung Karno mendaulat marxisme sebagai teori yang paling kompeten dalam memecahkan soal-soal sejarah, politik, dan sosial-kemasyarakatan. Tak hanya itu, Bung Karno juga mengakui, bahwa berkat pengaruh marxisme dalam dirinya, ia menjadi seorang nasionalis yang sangat anti-fasisme.

2. Pieter Jelles Troelstra

Pieter Jelles Troelstra adalah seorang tokoh sosialis dan gerakan buruh di Belanda. Di tahun 1894, ia mendirikan Partai Pekerja Sosial Demokrat (SDAP). Troelstra dikenal sebagai salah seorang pejuang hak pilih univerasal di Belanda. Di tahun 1918, karena terinspirasi oleh revolusi Rusia, Troelstra juga melancarkan revolusi yang gagal.

Bung Karno banyak melahap pidato dan buku-buku karya Troelstra, seperti Gedenkschriften (memoir yang terdiri dari empat volume) dan De Sociaal-Democratie na de oorlog (1921). Ia juga membaca terbitan-terbitan SDAP.

Dalam pidato Indonesia Menggugat, Bung Karno banyak mengutip pemikiran Troelstra. Misalnya, Troelstra menganjurkan agar kaum buruh tidak membatasi perjuangannya di dalam parlemen, tetapi juga aksi-aksi langsung dari serikat pekerja.

Saat memberi amanat di hadapan Panca Tunggal seluruh Indonesia, di Istana Negara, September 1966, Bung Karno mengutip Troelstra, bahwa bila ingin menumbangkan kapitalisme, untuk mencapai sosialisme, kita harus mengadakan massa aksi, menggerakkan kaum buruh untuk menentang dan berjuang sehebat-hebatnya.

Dari Troelstra juga Bung Karno belajar soal imperialisme. Bagi Troelstra, imperialisme berasal dari kapital besar, yang sebagian besar dikuasai oleh bank-bank, yang mencari jalan keluar ke dunia ketiga guna mendapatkan outlet baru bagi penanaman modal dan tenaga kerja murah.

3. HOS Tjokroaminoto

Pada tahun 1916, Bung Karno berangkat untuk bersekolah di Surabaya dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Saat itu, Tjokro sudah menjadi ketua Sarekat Islam (SI). Di rumah Tjokro-lah Bung Karno banyak menimba ilmu tentang politik. “Aku menghirup lebih banyak lagi persoalan politik di rumah pak Tjokro, dapur daripada nasionalisme,” kata Bung Karno.

Bung Karno sendiri menyebut Tjokro sebagai gurunya. “Secara sadar atau tidak sadar ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikannya kepadaku buku-bukunya,” kata Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Pada jamannya, Tjokro dikenal sebagai ahli pidato. Seringkali saat Tjokro menghadiri pertemuan atau rapat umum SI, Bung Karno-lah yang menemaninya. Tak jarang, kalau Tjokro berhalangan, maka Bung Karno yang jadi penggantinya.

4. Tan Malaka

Di bulan September 1945, Bung Karno bertemu dengan Tan Malaka di rumah DR Soeharto, dokter pribadi Bung Karno. Ini merupakan pertemuan resmi pertama diantara keduanya.

Dalam pertemuan itu, Bung Karno bertanya tentang buku Massa Aksi karya Tan Malaka. Buku Massa Aksi, yang ditulis oleh Tan Malaka di Singapura, tahun 1926, memang sangat mempengaruhi Bung Karno.

Ketika membangun PNI di tahun 1927, Bung Karno mengambil banyak pelajaran tentang massa aksi-nya Tan Malaka. Kendati demikian, Bung Karno baru mulai banyak menulis kata “massa aksi” di tahun 1929.

Ketika Bung Karno ditangkap oleh penguasa kolonial di tahun 1929, salah satu tuduhannya adalah Bung Karno menyiapkan sebuah massa aksi untuk menumbangkan penguasa kolonial pada tahun 1930. Dan, menurut penyelidikan Belanda, massa aksi yang siapkan Bung Karno itu mengacu famplet Massa Aksi-nya Tan Malaka.

5. Karl Kautsky

Karl Kautsky adalah salah seorang ahli teori Internasionale Kedua (Sosialisme Internasional) dan tokoh terkemuka Partai Sosial-Demokrat (SPD) Jerman.

Kautsky cukup mempengaruhi Bung Karno, terutama saat menyusun pidato Indonesia Menggugat. Di Indonesia Mengguat, ketika membedah imperialisme modern, Bung Karno mengutip buku Karl Kautsky Sozialismus und Kolonialpolitik. Menurut Kautsky, berbeda dengan imperialisme tua yang cenderung merampok barang dan kekayaan alam dari negeri jajahan untuk dibawa ke negeri asal, imperialisme modern justru menggunakan pendekatan politik yang lebih halus, seperti memasukkan kapital, membangun pabrik, dan budaya.

Bung Karno juga membaca buku Kautsky yang berjudul Der Weg zur Macht, yang memberinya pemahaman tentang pentingnya teori dalam memajukan kesadaran klas pekerja. Di buku itu juga, menurut Bung Karno, ia belajar pentingnya pengalaman praksis dalam membentuk kesadaran klas pekerja, seperti memenangkan perjuangan sosial-ekonomi, mengikuti pemilihan parlemen, dan lain-lain.

6. Mahatma Gandhi

Mahatma Gandhi adalah bapak pejuang pembebasan India dari kolonialisme Inggris. Metode perjuangan Gandhi, yang mengutamakan metode non-kekerasan, menginspirasi banyak orang.

Bung Karno sendiri banyak dipengaruhi oleh Gandhi. Tak bisa dimungkiri, ajaran nasionalisme Gandhi, yang menekankan perkawinan nasionalisme dunia ketiga dan kemanusiaan, sangat mempengaruhi gagasan nasionalisme Bung Karno. Ia selalu mensitir Gandhi: My Nationalism is Humanity.

Di dalam kumpulan risalahnya, Di Bawah Bendera Revolusi, Bung Karno sangat banyak mengambil pelajaran Gandhi. Ia memuju ketepatan strategi perjuangan Gandhi, yakni satyagraha dan swadesi, dalam melawan imperialisme Inggris. Menurut Bung Karno, strategi boikot yang dijalankan Gandhi sangat efektif untuk menghantam imperialis Inggris, yang sangat membutuhkan pasar bagi produksi industrinya.

Namun, Bung Karno menegaskan, strategi Gandhi itu kurang relevan di Indonesia. Di Indonesia, yang dihadapi adalah imperialisme Belanda yang terbelakang, yang kepentingannya adalah menanamkan modal di sektor perkebunan. Dengan begitu, strategi pemboikotan tidaklah efektif untuk memukul perusahaan-perusahaan Belanda itu. Selain itu, Indonesia tidak punya industrialis yang diharapkan memproduksi kebutuhan bangsa sendiri.

7. Henriette Roland Holst

Henriette Roland Holst adalah penyair dan sekaligus anggota Partai Komunis Belanda. Awalnya, ia bergabung dengan Partai Buruh Sosial-Demokrat (SDAP). Oleh Herman Gorter, seorang penyair dan aktivis sosialis, Henriette disarankan membaca Das Capital karya Karl Marx. Ia membaca tuntas tiga volume karya Marx tersebut.

Sejak itu, ia makin condong ke marxisme. Tahun 1900, Ia bertemu dengan sosialis Jerman, Rosa Luxemburg. Keduanya bersahabat hingga akhir hayatnya. Di SDAP, ada dua faksi yang bertarung, yakni sayap kanan (reformis) dan sayap kiri. Henriette memilih sayap kiri.

Ia bersimpati dengan revolusi Rusia 1917. Ia sering berdiskusi dengan Lenin, Trotsky, dan tokoh-tokoh Bolshevik lainnya. Ia sempat mengungungi Soviet di tahun 1921. Selain menghadiri kongres perempuan di Moskow, ia sempat bertemu dengan penulis kenamaan Rusia, Maxim Gorky.

Henriette sangat dikenal pejuang pergerakan di Indonesia, baik kaum sosialis, komunis, maupun nasionalis. Pasalnya, Henriette adalah salah satu pendukung setia perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia juga pengeritik pedas praktek kolonialisme Belanda di Indonesia.

Tulisan-tulisannya Heriette banyak dikutip pejuang Indonesia. Termasuk Bung Karno. Dalam pidato pembelaannya, Indonesia Menggugat, Bung Karno beberapa kali mengutip Henriette, terutama buku yang berjudul Kapitaal en Arbeid in Nederland.

Di buku Sarinah, yang merupakan kumpulan kuliah Bung Karno di kursus wanita di Jogjakarta, tahun 1947, Bung Karno juga banyak mengutip pendapat Henriette.

8. Jean Jaures

Jean Jaures adalah sosialis Perancis yang berpikiran radikal. Dia juga adalah pendiri koran l’Humanité, yang kelak menjadi koran Partai Komunis Perancis. Ia beberapa kali terpilih sebagai anggota parlemen Perancis. Namun, tahun 1914, ia tewas dibunuh di sebuah warung kopi di Paris oleh seorang ekstrim kanan.

Ketika usia masih belasan tahun, di Surabaya, Bung Karno sudah mengenal Jean Jaures. Ia menyebut Jean Jaures sebagai ahli pidato terbesar dalam sejarah Perancis. Lalu, ketika mulai menulis di koran Fikiran Ra’jat dan Suluh Indonesia Muda, Bung Karno mulai banyak mengutip pidato maupun karya-karya Jaures.

Kritik Jean Jaures terhadap demokrasi parlementer Perancis sangat mempengaruhi Bung Karno. Tidak bisa dimungkiri, kritik-kritik Jaures menjadi titik tolak bagi Bung Karno untuk mengembangkan pemikirannya mengenai demokrasi alternatif, yakni sosio-demokrasi.

9. Ernest Renan/Otto Bauer

Ernest Renan adalah filsuf dan penulis kenamaan Perancis. Karya-karya sejarah dan pemikiran politiknya banyak bersentuhan dengan soal nasionalisme dan identitas nasional.

Pemikirannya tentang asal usul bangsa sangat mempengaruhi banyak pemikir nasionalis. Tidak terkecuali Bung Karno. Ketika bicara bangsa, Bung Karno banyak mengutip Renan. Termasuk ketika Bung Karno menyampaikan pidatonya di hadapan BPUPKI, 1 Juni 1945, yang kelak dicatat sebagai hari lahirnya Pancasila.

Tokoh lain yang mempengaruhi teori kebangsaan Bung Karno adalah Otto Bauer. Ia adalah aktivis sosial-demokrat di Austria. Karyanya yang berjudul Social Democracy and the Nationalities Question banyak mempengaruhi pemikiran soal bangsa.

Bagi Renan, bangsa terbentuk karena adanya kehendak untuk hidup bersama (Le desir d’etre ensemble). Sedangkan bagi Otto Bauer, bangsa terbangun karena adanya persamaan watak atau karakater karena akumulasi persatuan pengalaman dan kesamaan nasib (een karakter-gemeenschap dat geboren is uit een gemenschap vanlotgevallen).

10. Lenin

Lenin adalah tokoh terkemuka marxis Rusia dan sekaligus tokoh terkemuka dalam revolusi Rusia 1917. Menurut Aidit, Lenin cukup mengenal Indonesia. Sebelum menulis karyanya Imperialisme, Tahap Tertinggi Kapitalisme, Lenin membacai karya Multatuli yang terkenal, Max Havelaar.

Di tahun 1913, Lenin malah menulis risalah berjudul Kebangkitan Asia, yang menyinggung kebangkitan gerakan Sarekat Islam (SI) dan Indische Partij (IP) di Hindia Belanda. “Perserikatan Nasional dari penduduk asli telah dibentuk di Jawa. Ia telah memiliki keanggotaan sebesar 80.000 orang dan menggelar rapat-rapat akbar. Tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhan gerakan demokratik,” tulis Lenin.

Bung Karno mengaku mengenal bacaan Lenin ketika masih muda. Bersamaan dengan ia mengenal Marx dan Engels. “Aku berhadapan dengan Marx, Engels, dan Lenin dari Rusia…,” kata Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis oleh penulis Amerika, Cindy Adams.

Bung Karno menyinggung Lenin dalam pidato 1 Juni 1945, yang menandai lahirnya Pancasila. Untuk menyakinkan anggota BPUPKI, yang sebagian besar masih ragu akan kesiapan Indonesia untuk merdeka, Bung Karno mengambil pelajaran Lenin ketika membangun Uni Soviet. Ini kutipan Bung Karno di pidato 1 Juni 1945 (Pancasila): “Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet Rusia Merdeka, telah mempunyai Djnepprprostoff, dan yang maha besar di sungai Djeppr? Apa ia telah mempunya radio-station, yan menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan Greche, baru mengadakan Djnepprprostoff!”

Di buku Sarinah, Bung Karno banyak mengutip pendapat Lenin mengenai peranan gerakan perempuan dalam Revolusi Rusia. “Jikalau tidak dengan mereka (perempuan), maka kemenangan tidak mungkin kita capai..,” kata Bung Karno mengutip Lenin.

Gagasan Bung Karno mengenai partai pelopor, sebagaiman diuraikan di risalah Mencapai Indonesia Merdeka, sedikit-banyaknya dipengaruhi Lenin. Menurut Bung Karno, tugas partai pelopor adalah mencerahkan massa yang belum sadar (onbewust) menjadi sadar (bewust). Bung Karno juga menekankan bahwa partai pelopor ini hanyalah eksponen termaju dari kelas tertindas. Selain itu, kata Bung Karno, partai pelopor harus mengadopsi prinsip sentralisme demokrasi. Partai pelopor juga harus memiliki disiplin baja.

Hanya saja memang, patut diketahui, Bung Karno memang kelihatan menciptakan jarak dengan komunisme. Ia lebih menyebut dirinya sebagai marxis, bukan komunis. Selain itu, Bung Karno tidak pernah mengadopsi istilah kediktatoran proletar ke dalam pemikirannya.

Di hadapan peserta rapat Front Nasional di Istora Senayan, Februari 1966, Bung Karno menyebut dirinya sebagai murid para pemimpin penggerak massa, termasuk Lenin.


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Monday, May 21

Biografi Singkat Pemimpin Partai Komunis Tiongkok

Alley, Rewi (1897–1987). Lahir di Selandia Baru, tergabung dalam Pasukan Ekspedisi Selandia Baru dalam Perang Dunia I. Pergi ke Tiongkok pada 1926, mendarat di Shanghai pada permulaan 1927. Bekerja pada International Famine Relief Commission yang juga menangani rehabilitasi kerusakan karena banjir. Selanjutnya ia bekerja sebagai inspektur sebuah pabrik di Shanghai. Ia terlibat dalam gerakan bawahtanah kaum komunis bersama Agnes Smedley. Dalam tahun 1938
Bagikan Ki Bro:

Biografi V.I Lenin

Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin (1870-1924) seorang pemimpin politik yang paling bertanggung jawab terhadap berdirinya Komunisme di Rusia. Sebagai penganut Karl Marx yang gigih dan setia, Lenin meletakkan dasar politik yang hanya bisa dibayangkan oleh Karl Marx seorang. Begitu cepatnya Lenin menyebar Komunisme ke seluruh penjuru dunia, dia mesti diakui sebagai salah seorang yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Lahir di Simbirsk (kini ganti jadi Ulyanovsk untuk menghormatinya) pada tahun 1870.
Bagikan Ki Bro:

Saturday, May 19

Biografi M.H. Lukman Njoto

Njoto2M.H.Lukman Njoto atau Njoto adalah satu dari banyak nama yang muncul saat kita membaca atau menelusuri literature dan jejak sejarah gerakan komunis di Indonesia.

Orang-orang komunis yang sering diungkapkan Soekarno (dalam setiap pidatonya) banyak berjasa dalam perjuangan bangsanya. Beribu-ribu mereka dibuang ke tempat-tempat pembuangan ke Digul atau mati dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.

M. H. Lukman Njoto atau Nyoto saja adalah Menteri Negara pada
Bagikan Ki Bro:

Biografi Tokoh KIRI Revolusioner Dimanca Negara


tokoh kiri progresif revolusioner yang saya rangkum dalam blog ini adalah tokoh kiri penganut politik komunisme, seorang marxist harus tau sejarahnya dan bagaimana strategi taktik dari setiap tokoh kiri ini sehingga kita bisa menetapkan apa-apa yang sesuai dengan keadaan kita dimana tempat kita berpijak. ok kawan-kawan aku coba mengumpulkan tokoh kiri dari berbagai negara:
Bagikan Ki Bro:

Biografy Friederich Engels

Friedrich EngelsFriedrich Engels (lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820 – meninggal di London, 5 Agustus 1895 pada umur 74 tahun) adalah anak sulung dari industrialis tekstil yang berhasil, sewaktu ia dikirim ke Inggris untuk memimpin pabrik tekstil milik keluarganya yang berada di Manchester, ia melihat kemiskinan yang terjadi kemudian menulis dan dipublikasikan dengan judul Kondisi dari kelas pekerja di Inggris (Condition of the Working Classes in England) (1844) Pada tahun 1844 Engels mulai ikut berkontribusi dalam jurnal radikal yang yang ditulis oleh Karl Marx di Paris. kolaborasi tulisan Engels dan Marx yang pertama adalah The Holy Family. Mereka berdua sering disebut "Bapak Pendiri Komunisme", di mana beberapa ide yang berhubungan dengan Marxisme sudah kelihatan. Bersama Karl Marx ia menulis Manifesto Partai Komunis (1848). Setelah Karl Marx meninggal, ialah yang menerbitkan jilid-jilid lanjutan bukunya yang terpenting Das Kapital. Das Kapital (Capital, dalam terjemahan bahasa Inggris, atau Modal) adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Buku ini merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi dan juga, dalam bagian tertentu, merupakan kritik terhadap teori-teori terkait lainnya. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867. Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik. Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19an, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang saling berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia. Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, Tokoh Ilmuwan Penemu - http://www.tokoh-ilmuwan-penemu.com sistem sosial dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme. - Tokoh Ilmuwan Penemu - http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2011/02/pendiri-komunisme-friedrich-engels.html
Friedrich EngelsFriedrich Engels (lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820 – meninggal di London, 5 Agustus 1895 pada umur 74 tahun) adalah anak sulung dari industrialis tekstil yang berhasil, sewaktu ia dikirim ke Inggris untuk memimpin pabrik tekstil milik keluarganya yang berada di Manchester, ia melihat kemiskinan yang terjadi kemudian menulis dan dipublikasikan dengan judul Kondisi dari kelas pekerja di Inggris (Condition of the Working Classes in England) (1844) Pada tahun 1844 Engels mulai ikut berkontribusi dalam jurnal radikal yang yang ditulis oleh Karl Marx di Paris. kolaborasi tulisan Engels dan Marx yang pertama adalah The Holy Family. Mereka berdua sering disebut "Bapak Pendiri Komunisme", di mana beberapa ide yang berhubungan dengan Marxisme sudah kelihatan. Bersama Karl Marx ia menulis Manifesto Partai Komunis (1848). Setelah Karl Marx meninggal, ialah yang menerbitkan jilid-jilid lanjutan bukunya yang terpenting Das Kapital. Das Kapital (Capital, dalam terjemahan bahasa Inggris, atau Modal) adalah suatu pembahasan yang mendalam tentang ekonomi politik yang ditulis oleh Karl Marx dalam bahasa Jerman. Buku ini merupakan suatu analisis kritis terhadap kapitalisme dan aplikasi praktisnya dalam ekonomi dan juga, dalam bagian tertentu, merupakan kritik terhadap teori-teori terkait lainnya. Jilid pertamanya diterbitkan pada 1867. Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut faham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifes politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik. Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap faham kapitalisme di awal abad ke-19an, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dengan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangannya yang saling berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia. Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, Tokoh Ilmuwan Penemu - http://www.tokoh-ilmuwan-penemu.com sistem sosial dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme. - Tokoh Ilmuwan Penemu - http://tokoh-ilmuwan-penemu.blogspot.com/2011/02/pendiri-komunisme-friedrich-engels.html
Friedrich EngelsFriedrich Engels (lahir di Barmen, Wuppertal, Jerman, 28 November 1820 – meninggal di London, 5 Agustus 1895 pada umur 74 tahun) adalah anak sulung dari industrialis tekstil yang berhasil, sewaktu ia dikirim ke Inggris untuk memimpin pabrik tekstil milik keluarganya yang berada di Manchester, ia melihat kemiskinan yang terjadi kemudian menulis dan dipublikasikan dengan judul Kondisi dari kelas pekerja di Inggris (Condition of the Working Classes in England) (1844) Pada tahun 1844 Engels
Bagikan Ki Bro:

Haji Misbach: Muslim Komunis

Haji Misbach memiliki posisi yang unik dalam sejarah di Tanah Air. Namanya sedahsyat Semaun, Tan Malaka, atau golongan kiri lainnya. Di  kalangan gerakan Islam, memang namanya nyaris tak pernah disebut lantaran pahamnya yang beraliran komunis. Menurut Misbach, Islam dan komunisme tidak selalu harus dipertentangkan, Islam seharusnya menjadi agama yang bergerak untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Lahir di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dibesarkan sebagai putra seorang pedagang batik yang kaya raya. Bernama kecil Ahmad, setelah menikah ia berganti nama menjadi Darmodiprono. Dan usai  menunaikan ibadah haji, orang mengenalnya sebagai Haji Mohamad Misbach.
Bagikan Ki Bro:

Rosa Luxemburg: Sang Pedang Revolusi

Banyak sudah tulisan yang memahat nama agung perempuan ini, seorang pemimpin partai revolusioner Jerman (SPD); jurnalis dan penulis tersohor, sekaligus pemikir Marxis terkemuka. Rosa Luxemburg, tak hanya di Jerman, namanya abadi pula dalam perjuangan revolusioner di Polandia dan Rusia. Sebarisan karya-karya besarnya menjadi bagian dari penggerak perubahan sejarah. Seumur hidupnya, dengan sepenuh-penuh jiwanya, ia teguh berjuang demi tegaknya sosialisme.

Berakhir tragis. Setahun setelah revolusi Bolsyevik yang dengan
Bagikan Ki Bro:

Hidup itu Indah: Biografi Singkat Leon Trotsky

Oleh: Ted Sprague
"Hidup itu indah. Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi, dan kekejaman, dan menikmatinya sepenuhnya." – Leon Trotsky
Lev Davidovich Bronstein, begitu nama aslinya. Bersama Lenin dan kaum Bolshevik di Rusia, dia memimpin Revolusi Oktober yang mendirikan negara buruh pertama di muka bumi. Namun nasibnya tragis. Terus berpegang pada cita-cita sosialisme yang sejati, dia menjadi musuh bebuyutan Josef Stalin. Dipecat dari partai, diasingkan dari Uni Soviet, diburu di mana-mana, difitnah, keluarganya dibunuhi, dan dia sendiri akhirnya mati di tangan agen rahasia Stalin di Meksiko. Sampai akhir hayatnya, dia berjuang untuk
Bagikan Ki Bro:

Ho Chi Minh, “Ho Sang Pencerah Vietnam”

Ho Chi Minh muda, melakukan pengembaraan panjang ke berbagai penjuru dunia, bermodal pekerjaan sebagai buruk kasar di kapal Perancis. Puncak pengembaraannya, terjadi saat ia memutuskan untuk menetap di Perancis. Di negara yang tengah menjajah negaranya. Tahun 1923, atau kurang lebih 12 tahun setelah ia meninggalkan negaranya untuk melakukan pengembaraan, adalah tahun yang penting bagi dirinya. Saat itulah dia sudah matang sebagai seorang pria.
Bagikan Ki Bro:

Friday, May 18

Tentang Dipa Nusantara Aidit


ObrazekDipa Nusantara Aidit, lebih dikenal dengan DN Aidit (30 Juli 1923 - 22 November 1965), adalah Ketua Central Comitte Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Pulau Bangka, dan dipanggil "Amat" oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, "Nurul Islam", yang berorientasi kepada Muhammadiyah
Bagikan Ki Bro:

biografi Semaoen


ObrazekSemaun (lahir di kota kecil Curahmalang, Mojokerto, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971) adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI).
Masa kecil

Semaun adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api. Meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen berhasil masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Karena itu, ia kemudian bekerja di Staatsspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil.
Bagikan Ki Bro:

Friday, February 5

Catatan Pinggir: Pramodea anata toer

Tentang Pramodeya Ananta Toer
by: Goenawan Mohamad 

Pramudya Ananta Toer di New York. Bagaimana kita pernah membayangkan ini? Di tengah Park Avenue tulip bermunculan kembali-tiap tahun seperti tak disangka-sangka-dengan rapi, seakan kembang plastik. Ini akhir April. Di dalam Gedung Asia Society di tepi avenue itu, di auditoriumnya yang penuh sesak, orang memandang ke pentas: Pramudya Ananta Toer di New York. Sesuatu yang lebih tak terduga. Orang sadar bahwa di panggung yang tertata itu, ada sesuatu yang datang dari sebuah pengalaman yang suram.
Pram mengenakan jas Nehru abu-abu, rambutnya yang memutih dan gondrong tersibak ke belakang. Dalam umurnya yang lebih dari 70 tahun, ia tampak kuat, langsing, tegak. Suaranya besar dan mantap, dengan getar di sana-sini. John MacGlynn, penerjemahnya, duduk di dekatnya, dekat sekali ke telinga Pramudya yang pekak, untuk setiap kali menyalin percakapan ke dalam bahasa Inggris atau sebaliknya. Di sebelah kiri Pramudya, Mary Zurbuchen, mengajukan beberapa pertanyaan dalam sebuah interview yang menarik, sebelum Pramudya menghadapi hadirin.
Pernahkah kita membayangkan ini? Mungkin kita akan mengatakan, sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman "Demokrasi Terpimpin" Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman "Orde Baru" ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun. Dan kini, tahun 1999, ia mendapatkan paspornya, ia seorang yang merdeka kembali, dan ia berangkat ke Amerika Serikat, sebuah negeri yang tak pernah dikunjunginya-dan ia disambut.
Tetapi benarkah sejarah punya narasi selurus itu? Di Pulau Buru, tempat ia diasingkan selama 13 tahun beserta 12.000 tahanan politik lainnya, sebuah gulag yang dikurung oleh laut, sebuah kamp yang dikitari savana dan diselang-selingi rawa, barangkali yang bertahan hanya ide bahwa kelak manusia akan bebas. Terutama jika orang mempercayai Hegel dan Marx-seperti mempercayai eskatologi bahwa surga akan datang kelak di kemudian hari karena itulah janji Tuhan. Tetapi jika kita baca catatan-catatan Pramudya yang kemudian dihimpun di bawah judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang di Amerika tahun ini diterbitkan sebagai The Mute's Soliloquy, barangkali yang tebersit di sana bukanlah eskatologi itu, bukan Hegel bukan pula Marx, melainkan sebuah "pesimisme pemikiran, optimisme kehendak".
Kalimat ini datang juga dari keadaan terpenjara: yang menuliskannya seorang Marxis yang orisinil, Antonio Gramsci, dari selnya di Italia di tahun 1930-an. Mungkin itu pulalah yang juga terjadi di Buru. Pram menuliskan catatannya dan kemudian menyembunyikannya, tanpa harapan bahwa semua itu akan dibaca. Tetapi, seperti dikatakannya kepada Mary Zurbuchen, ia ingin agar ada kesaksian bagi anak-anaknya-yang terpisah dari dirinya selama bertahun-tahun itu-bahwa "mereka pernah punya seorang ayah".
Ancaman dari waktu adalah ketidaktahuan yang berlanjut atau lupa yang kemudian terjadi. Mengetahui, dalam melawan ancaman waktu-itulah hal yang penting bagi Pram. Ia tak tahu apakah ia akan menang. Akalnya mengatakan kemenangan baginya mustahil. Tetapi ia tak hendak menyerah. Ia menulis sederet novel sejarah.
George Orwell pernah mengatakan bahwa bentuk novel adalah yang "paling anarkis" dalam kesusastraan. Orwell benar, sepanjang sifat "anarkis" itu diartikan penampikan novel kepada segala yang ortodoks dan mengekang. Tetapi pada sisi lain, novel-seperti yang ditulis oleh Orwell dan Pramudya, terutama novel sejarah itu-mempunyai dorongan yang dekat dengan kehendak "mengetahui". Dan "mengetahui" bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan anarki; mengetahui adalah proses yang tertib.
Dalam novel, sejarah memperoleh alur, mendapatkan bentuk. Mungkin bukan sebuah alur Hegelian (bahwa sejarah akan berakhir dengan kemerdekaan), tetapi bagaimanapun bukan sesuatu yang acak-acakan. Haruskah dengan pandangan demikian ini pula kita melihat cerita hidup Pramudya sendiri: dari sebuah pulau buangan yang jauh di Maluku, sampai dengan ke Amerika Serikat, sebuah negeri yang-seperti diakuinya malam itu-punya kontribusi besar, berkat Presiden Carter, dalam pembebasannya dari Pulau Buru?
Salah satu yang sering mengagetkan dalam sejarah ialah bahwa ia ternyata bisa mengagetkan. Banyak hal berlangsung bukan semata-mata karena progresi yang seperti hukum itu, bukan karena perkembangan sebuah struktur sosial, bukan pula takdir, melainkan karena tindak manusia. Dari saat Pramudya ditahan sampai dengan saat Pramudya di New York telah berlangsung sebuah periode yang begitu mencengkeram: Perang Dingin. Perang Dingin, yang membagi dunia menjadi dua sejak akhir 1940-an, antara "komunis" dan antikomunis"-seakan-akan itu sebuah pembagian yang kekal-tak disangka-sangka berakhir ketika Mikhail Gorbachev mengambil keputusan yang semula tak terbayangkan di tahun 1989: Uni Soviet harus berubah, dan Tembok Berlin diruntuhkan.
Smiley, tokoh utama John Le Carre yang muncul kembali dalam The Secret Pilgrim, mengatakan itu dengan secercah rasa kagum: "Manusialah yang mengakhiri Perang Dingin itu, kalau kau belum mengetahuinya. Bukan persenjataan, atau teknologi, atau tentara atau serangan. Manusia, itu saja. Dan bahkan bukan manusia Barat... melainkan musuh bebuyutan kita di Timur, yang turun ke jalan, menentang peluru dan tongkat polisi dan berkata: Sudah cukup. Kaisar merekalah, bukan kaisar kita, yang berani naik ke panggung dan mengatakan bahwa ia tak berpakaian."
Kaisar yang berani, rakyat yang bertindak.... Manusia belum mati-mungkin itulah yang akhirnya harus dikatakan, sebuah kabar gembira untuk Pramudya, tentang Pramudya. Setidaknya ketika musim dingin ketidakbahagiaan kita berakhir, dan tulip dan magnolia muncul, setidaknya sampai musim gugur tiba kembali.

sumber: http://www.tempo.co.id/majalah/index-isi.asp?rubrik=cat&nomor=1 NO. 08/XXVIII/27 Apr - 3 Mei 1999 Pram

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro: