Showing posts with label Gerakan Buruh. Show all posts
Showing posts with label Gerakan Buruh. Show all posts

Saturday, March 25

Perjuangan Buruh, adalah Perjuangan Memenangkan Kasus


aksi may day 2015

Sudah bertahun-tahun lamanya gerakan buruh bergerak melawan ketidak adilan, baik di tempat kerjanya, maupun pada perumusan regulasi oleh perumus undang-undang yang sejatinya tidak pernah berpihak sepenuhnya kepada kaum buruh. Hal ini yang kemdian memicu banyaknya bermunculan serikat-serikat buruh yang ada. Pasca runtuhnya pemerintahan orde baru sebagai penguasa anti gerakan buruh, kini bermunculan banyak organisasi buruh, baik yang dibuat oleh pemerintah, pengusaha, maupun para aktivis buruh. 

Dari sekian banyaknya organisasi buruh yang ada, terbentuk dari penanganan kasus (kasuistik), bukan dari kesadaran diri kaum buruh itu sendiri untuk mengorganisir diri. Hal yang utama harus dipahamkan adalah kepentingan buruh tidak akan pernah sama dengan kepentingan penguasa dan pengusaha. 

Msekipun ada, itu sebagian kecil saja, dan jarang di temui. Serikat buruh yang ada dipercaya mampu menangani kasus perburuhan, baik soal kasus PHK, Upah yang tidak sesuai dan sebagainya merupakan hal yang setiap hari di lakukan para pengurus serikat buruh. Jika organisasi tidak mampu mengakomodasi kepentingan buruh dalam penaganan kasusnya, maka buruh akan keluar dari organisasi, karena organisasi serikat hanya dipandang sebagai pemadam kebakaran, jika tak mampu memadamkan api, maka hanguslah anggota di tingkat SB/SP tingkat pabrik.    

Dimakassar, banyak sekali kita temui kasus seperti ini, dimana para pekerja yang tergabung dalam organisasi serikat buruh membawa kepentingan bahwa kasusnya bisa ditangani dengan baik oleh pengurus serikat buruh. Bukan untuk bagaimana meningkatkan kecerdasan buruh dan membangun persatuan buruh, akan tetapi hanya menjadi pemadam kebakaran saja. 

Buruh-buruh yang ada sangat takut untuk bergabung dalam salah satu organisasi serikat buruh, apalagi membentuk serikat buruh. Betapa sulitnya membangun serikat buruh dalam sistem eknomi yang mencekik kehidupan kaum buruh. 

Intimidasi, berupa ancaman PHK, dan gaji di potong dan sebagainya menjadi senjata bagi para pengusaha untuk menghalang-halangi buruhnya untuk berorganisasi. Meskipun undang melarang untuk menghalangi buruh untuk berserikat, namun itu hanya ada dalam undang-undang saja, tidak ada dalam penerapannya. Kaum buruh tetap saja ketakutan meskipun sudah ada regulasi yang mengatur. Hal ini lagi-lagi karena persoalan ekonomi. Kaum buruh sangat ketakutan bila tidak mendapat pekerjaan, atau di PHK di tempat kerjanya. 

Kasus intimidasi ini merupakan taktik jitu para pengusaha, untuk menakut-nakuti buruhnya agar tidak bergabung atau membentuk serikat buruh. Berbagai macam juga dilakukan pengusaha seperti bekerja sama dengan perusahaan outsoarching, dan juga memberlakukan sistem kerja kontrak yang sama sekali tidak berkekuatan hukum. Maka suatu saat nanti ada masalah, maka akan dengan mudah ditangani oleh pengusaha. 

Perjuangan buruh sekarang ini hanya menjadi perjuangan yang bersifat kasuistik, menangani kasus lalu selesai perkara, bukan untuk membangun solidaritas antar sesama kaum buruh, bahwa kita satu dalam sistem penindasan dan penghisapan para penguasa dan pengusaha. Organisasi serikat buruh sekarang ini pun berubah orientasinya, mungkin karena sudah jenuh atau mungkin juga penanganan kasus ini dijadikan sebagai lahan basah untuk mendapat duit. 

Jika kita menganalisa dengan baik, arah serikat buruh sekarang ini mengarah pada penanganan kasus semata, layaknya LSM yang mencari kehidupan dari adanya kasus yang di tanganinya. Inilah skema yang di inginkan para penguasa dan pengusaha untuk melemahkan gerakan buruh, ditambah lagi dengan regulasi yang mencekik, dan keberpihakan penguasa pada satu kelas tertentu yaitu pengusaha menjadikan buruh terdiam pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengadu kepada serikat buruh untuk dibantu dalam penaganan kasusnya. 

Dari adanya kenyataan seperti ini, tentunya dibutuhkan perumusan ulang tentang gerakan buruh. Mengapa harus buruh, karena mereka lah pemegang kendali jalannya eknomi Negara, dan penguasa dan pengusaha akan takut jika buruh bergerak, mogok, aksi-aksi dan sebagainya.
 

Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:

Friday, August 5

Narkoba dan Penegagakan Hukuman Mati




Image result for hukuman mati narkoba
Dalam beberapa tahun belakangan ini, issu yang mencuat di beberapa media elektronik, maupun cetak mengenai eksekusi mati 10 terpidana hukuman mati dalam kasus pengedaran narkoba, dari 10 terpidana hukuman mati hanya 4 orang yang telah di eksekusi mati tersemasuk salah satunya adalah fredy budiman. Hukuman mati ini di publikasikan di media-media sehingga respon publik pun bermunculan dengan berbagai komentar tentang adaya hukuman mati yang berlaku di indonesia yang terkena kasus narkoba, dan kasus teroris.
Bagikan Ki Bro:

Saturday, June 28

Beda Film Buruh Bekasi Bergerak "GSBN"


ORGANISASI SERIKAT BURUH MAKASSAR MENDORONG SEKBER BURUH SEBAGAI WADAH MENUJU GERAKAN PERSATUAN BURUH


Sekitar satu minggu setelah terbentuknya Sekber Buruh Makassar kemudian mengagendakan pemutaran film “Buruh Bekasi Bergerak” sebagai langkah awal mengkampanyekan kepada seluruh serikat buruh yang ada di Makassar tentang persatuan gerakan buruh. Film documenter Buruh bekasi bergerak yang berdurasi 00:35:05 menit menjadi percontohan dari gerakan buruh yang ada dimakassar seperti gabungan serikat buruh nusantara (GSBN) yang telah menyatakan sikap dan berkomitment untuk membesarkan sekber buruh di Makassar. Dalam diskusi film buruh bekasi bergerak pada hari selala taggal 27 Mei 2014 di secretariat GSBN yang dihadiri juga oleh element gerakan lainnya seperti organisasi gerakan mahasiswa: Pembebasan, SMI, Komunal, dan FMD-SGMK.

Dalam diskusi tersebut yang dihadiri sekitar 30 orang lebih dari berbagai elemen gerakan yang ada di Makassar, ada beberapa point yang bisa menjadi kesimpulan, yaitu; persatuan gerakan buruh dimakassar. askin sebagai ketua dari gabungan serikat buruh nusantara (GSBN) menyatakan bahwa dengan adanya film documenter bekasi bergerak, mudah-mudahan buruh yang ada dimakassar mampu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh kawan-kawan buruh yang ada di bekasi khusunya, dan yang menarik dalam film tersebut adalah persatuan dan solidaritas yang tinggi terhadap serikat-serikat buruh terhadap serikat buruh lainnya yang secara platform politik organisasi berbeda namun mampu melakukan kerja-kerja kolektif seperti advokasi bersama, dan grebek pabrik secara bersama-sama.

Ketua kota makassar GSBN kawan gerson minggu mengatakan hal yang sama, bahwa dengan adanya praktek kerja sama-sama yang dilakukakan kaum buruh bekasi yang tidak menonjolkan ke-egoisan organisasi serikat buruh, mampu melakukan perlawanan terhadap pihak pengusaha yang memang akan selalu semenah-menah melakukan pelanggaran terhadap hak-hak buruh, ini yang menjadi pelajaran juga bagi kita yang ada dimakassar maupun yang diluar dari Makassar, yang salama ini terkotak-kotakkan, tidak satu perjuangan, tidak satu dalam barisan perlawanan, seperti yang terjadi pada peringatan hari buru internasional (may day) kaum buruh di Makassar tidak ada persatuan, ada yang mengikuti program elit yaitu gerak jalan santai yang di danai oleh APINDO, dan ada yang aksi peringatan may day dijalan dan di kawasan industry. Saya melihat bahwa gerakan buruh di Makassar telah di pecah belah oleh elit borjuasi dan komplik elit serikat buruh yang masih menjunjung tinggi egonya, nah, dengan terbentuknya sekber buruh Makassar mudah-mudahan mampu meminimalisir ke-egoisan masing-masing organisasi serikat buruh khsusnya di Makassar dan mendorong persatuan minimal persatuan dalam kerja-kerja advokasi persoalan buruh sampai pada persatuan politik gerakan buruh.

dari sekian tanggapan mengenai film buruh bekasi bergerak, ada juga yang harus diperhatikan dalam gerakan buruh khususnya di Makassar seperti yang dikatakan oleh kawan Bunga Rosi yang sekarang menjabat sebagai sekretaris GSBN bahwa, sangat tepat jika kita mendorong persatuan gerakan buruh khsusunya di Makassar, tetapi ada juga yang harus diperhatikan bahwa tidak semua serikat buruh yang ada ingin membangun persatuan khusunya kerja sama-sama. mugkin saja akan mudah bergabung dalam sekber buruh tetapi tidak mudah mendisplinkan organisasi serikat buruh yang hanya mendorong kepentingan federasi serikat buruhnya saja, ini yang menjadi kerja-kerja berat dalam mendorong persatuan gerakan buruh khususnya di Makassar, kita bisa mengatakan bahwa mendisplinkan organisasi serikat buruh dalam membangun persatuan itu sangat sulit namun bukan berarti tidak bisa, selama kita bersatu dalam memperjuangkan kaum buruh saya kira tidak ada yang mustahil untuk kita lakukan, kita satu masalah seperti system kerja kontrak, upah rendah, PHK semenah oleh pihak pengusaha jadi, tidak ada alasan untuk tidak bersatu.

Dalam pemutaran film dan diskusi tentang persatuan gerakan buruh Makassar tidak terlepas juga tanggapan dari kawan-kawan dari orgnisasi mahasiswa bahwa gerakan mahasiswa telah mengalami kemunduran dan hanya gerakan buruhlah yang tetap dan mampu bergerak dan memang gerakan buruh-lah soko guru perubahan menuju system yang memanusiakan manusia, dan toh.., mahasiswa tidak terlepas dari gerakan buruh, karena mahasiswa yang orang tuanya bukan dari kalangan konlomerat, pengusaha, pejabat pemerintah nantinya akan menjadi buruh, jadi tidak ada alasan juga bagi gerakan mahasiswa mendukung gerakan-gerakan buruh untuk memperbaiki kehidupannya.

Diskusi selama kurang lebih 3 jam lamanya akhirnya ditutup dengan semangat persatuan dan akan mengandekan pemutaran film dan diskusi selanjutnya dengan mengundang lebih luas lagi organisasi-organisasi serikat buruh di Makassar dan akan mengadakan pendidikan untuk memajukan kesadaran politik kaum buruh. Diskusi ditutup. Kaum seduania bersatulah!

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Thursday, June 19

KRONOLOGIS KASUS SBN.PT.VIARDI BINTANG TERANG



Pada tanggal 16 mei 2014 pihak perusahaan PT.VIARDI BINTANG TERANG melakukan PHK sepihak terhadap salah satu anggota serikat buruh Nusantara PT.VIARDI BINTANG TERANG(SBN.Viardi Anggota GSBN)  Atas Nama Zaenal dengan Alasan indisifliner, sementara Buruh/pekerja yg bersangkutan berhalangan Masuk Kerja karena Sakit dan Dibuktikan Dengan Surat keterangan Dokter. Kemudian pada tanggal 18 mei 2014 Pengurus SBN.Viardi Membuat surat permintaan Bipartit terkait dengan PHK sepihak tersebut dan menuntut Hak-hak Normatif yang Belum berjalan di perusahaan Seperti Upah Sundulan dan upah Lembur. Berselang 2 hari setelah pengurus SBN.Viardi Memasukkan Surat Tersebut(20 mei 2014), Pihak PT.VIARDI BINTANG TERANG kembali melakukan PHK terhadap Buruh/pekerja Atas Nama Muh.Nur yang Juga Adalah Anggota Serikat, dengan Alasan yang sama (Indisfliner). Kemudian Pihak perusahaan menanggapi  Surat Permintaan bipartit pengurus Sbn.Viardi Pada Tanggal 22 mei 2014 dengan maksud untuk merundingankan Masalah tuntutan Pengurus SBN.Viardi  yang akan diadakan pada tanggal 28 mei 2014 bertempat diruangan sales perusahaan.




Pada tanggal 22 mei 2014 Diadakan perundingan bipartit tersebut Namun tidak menemui kata sepakat, sehingga Pada Tanggal  29 mei 2014 Pengurus SBN PT.Viardi menyampaikan bahwa pada tanggal 09 Juni 2014 akan Diadakan Aksi mogok Kerja keperusahaan dan Instansi terkait. pada tanggal 04 Juni 2014 Pihak perusahaan PT.Viardi Bintang Terang Kembali melakukan PHK terhadap Anggota Serikat Atas Nama Lukman Hakim masih dengan Alasan Indisifliner.  Menjelang Aksi pemogokan Kawan-kawan SBN.Viardi pihak perusahaan Mendatangkan preman keperusahaan untuk melakukan intimidasi kepada kawan-kawan Buruh.

Pada tanggal 09 juni 2014 kawan-kawan SBN.PT.Viardi bintang Terang melakukan Aksi Mogok Kerja meski di intimidasi oleh preman kawan-kawan berhasil melumpuhkan aktifitas perusahaan dengan memblokir akses keluar masuk perusahaan, namun pihak perusahaan tidak memperlihatkan etikat baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut,sehingga kawan-kawan Buruh memutuskan menginap diperusahaan meskipun mereka dintimidasi oleh sejumlah preman. Keesokan harinya tanggal 10 juni 2014 aksi terus berlanjut kawan-kawan buruh masih menutup Akses keluar masuk perusahaan,kemudian pada jam 09.30 pihak Dinas Tenaga Kerja Kota Makassar dating keperusahaan Namun mereka pulang setelah menunggu setegah jam pihak perusahaan belum juga Datang keperusahaan. Yang cukup memprihatinkan banyaknya preman yang berkeliaran dilingkungan perusahaan bahkan mengancam membubarkan Aksi kawan-kawan Buruh Pihak Kepolisian hanya terlihat satuorang. Setelah pukul 17.00 wita Pihak preman kembali mengancam akan membubarkan Aksi kawan-kawan ketika masih menginap diperusahaan dengan Alasan tidak meminta Ijin kepihak pemerintah setempat(RT). Setelah kronologis ini dibuat tepat pukul 18.00wita kawan-kawan Buruh SBN.Viardi Bintang Terang Masih Bertahan di Perusahaan.


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Friday, April 18

1 Mei Libur Nasional = 1 Mei Buruh Tidak Boleh Unjuk Rasa Lagi?


Setiap tanggal 1 Mei, paling tidak semenjak lengsernya pemerintahan orde baru, buruh berbondong-bondong buruh turun ke jalanuntuk menyuarakan beragam tuntutannya, selain tuntutan kesejahteraan salah satu tuntutan yang dikemukakan adalah meminta1 Mei ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Perjuangan panjang menuntut 1 Mei sebagai hari libur nasional akhirnya tercapai. Pada bulan Juli 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Apakah ini sebuah pertanda kemenangan awal kelas buruh di Indonesia sehingga Presiden SBY akhirnya mengakui eksistensi keberadaan gerakan serikat buruh dengan cara menetapkan 1 Mei sebagai libur nasional? Atau ada agenda lain terkait penetapan 1 Mei tersebut?
 
Lewat tulisan ini saya mengajak kawan-kawan buruh di seluruh Indonesia untuk secara jeli melihat konteks 1 Mei sebagai hari libur nasional, agar kita, kelas buruh, selalu waspada terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang secara nyata selama ini tidak pernah berpihak kepada buruh.

SEJARAH HARI BURUH

Peringatan 1 Mei sebagai hari buruh atau dikenal dengan istilah May Day dimulai dengan aksi yang dilakukan 400.000 buruh di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886 untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Pada tanggal 4 Mei 1886, para demonstran melakukan aksi pawai besar-besaran untuk memperbesar gelombang unjuk rasa tersebut. Aksi demonstrasi buruh tersebut mengundang reaksi dari pihak kepolisian dengan menembaki para demonstran yang menyebabkan ratusan buruh meninggal dunia dan para pemimpinnya ditangkap serta dihukum mati.

Adalah Kongres Sosialis Dunia, yang diselenggarakan di Paris pada Juli 1889, yang kemudian menetapkan peristiwa di Amerika Serikat tersebut sebagai hari buruh sedunia serta mengeluarkan resolusi yang berisi :
Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.

HARI BURUH DI INDONESIA

Sejak 1918, Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tercatat sebagai wilayah pertama di Asia yang memperingati May Day.

Pada era pemerintahan Soekarno, 1 Mei adalah hari yang diperingati secara nasional. Dalam RUU Kerja yang digodok pada 1947-1948, diusulkan satu klausul yakni: “Pada hari 1 Mei Buruh dibebaskan dari kewajiban bekerjadanRUU Kerja tersebut disahkan oleh Pemerintah melalui UU No.1/1951 yang berisi pernyataan diberlakukannnya RUU Kerja Tahun 1948 menjadi Undang-undang.

Sejak masa pemerintahan Orde Baru,hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomikarenadisebabkan gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis G30SPKI.

1 MEI DITETAPKAN SEBAGAI HARI LIBUR NASIONAL

"Hari ini, saya tetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional dan dituangkan dalam Peraturan Presiden," itulah gaya SBY ketika menetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional lewat akun twitteer resminya, @SBYudhoyono, Senin (29/7/2013).

Sebelumnya, pada pertemuan antara Presiden SBY dan Wakil Presiden Budiono beserta Menteri terkait dengan pimpinan-pimpinan Serikat Buruh / Serikat Pekerja di Istana Negara pada 29 April 2013 lalu, Presiden SBY sempat mengutarakan akan memberikan kado bagi buruh yaitu 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional.

Penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional dituangkan dalam KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN TANGGAL 1 MEI SEBAGAI HARI LIBUR.

Kepres tersebut disambut oleh pemerintah dengan keluarnya KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI AGAMA, MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI, DAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2013, NOMOR 335 TAHUN 2013 dan NOMOR 5jS KBj MENPAN-RBj08j2013 TENTANG HARI LIBUR NASIONAL DAN CUTI BERSAMA TAHUN 2014.
Terkait dengan penetapan 1 Mei sebagai hari libur nasional, salah satu presiden Konfederasi Serikat Pekerja dalam wawancaranya dengan media setelah pertemuan pimpinan buruh dengan SBY di Istana (29/4), mengatakan, jika memang May Day benar dijadikan hari libur nasional, pihaknya tetap akan menggelar unjuk rasa besar-besaran pada 1 Mei untuk menuntut hak buruh seperti yang dilakukan selama ini. Pada 1 Mei, ia menyebut akan ada 600.000 buruh yang berunjuk rasa di seluruh Indonesia. Ada 150.000 buruh asal Jabodetabek yang demo di Jakarta,di depan Istana,DPR dan kementerian terkaitdan akan berjalan tertib.
Jika diartikan dari pernyataan tersebut pada tanggal 1 Mei 2014 akan menjadi ajang aksi unjuk rasa dari ratusan ribu buruh di Indonesia, tidak hanya berupa seremoni tetapi juga akan didominasi oleh tuntutan kaum buruh, yang faktanya sampai hari ini permasalahan besar masih menunggu di tahun 2014 ini. Setidaknya, jika saya mengambil dari Catatan Akhir Tahun salah satu Konfederasi Serikat Buruh yang mengatakan bahwa tahun 2014, perburuhan akan didominasi oleh permasalahan Pengupahan, BPJS dan Outsourcing, berarti aksi 1 Mei 2014 mayoritas tuntutan buruh tidak akan lepas dari permasalahan tersebut.

Dengan melihat perkembangan bahwa 1 Mei sudah ditetapkan menjadi Hari Libur Nasional untuk memperingati Hari Buruh Internasional, berarti buruh akan semakin mudah dan semakin masive dalam menyuarakan tuntutannya karena selama ini yang menjadi kendala mengapa pada tiap aksi May Day masa aksi buruh tidak bisa maksimal turun ke jalan adalah karena masalah hari kerja. Mulai 1 Mei 2014 ini sejarah akan berkata lain, paling tidak mengutip pernyataan salah satu Presiden Konfederasi di atas yang mengatakan 150.000 buruh akan demo di Jakarta, karena hari tersebut adalah hari libur, jadi buruh yang akan berunjuk rasa tidak perlu mengkhawatirkan akan terkena Surat Peringatan (SP), pemotongan gaji, dan ancaman lainnya yang datang dari pihak manajemen ketika mereka melakukan aksi May Day.

Jadi 1 Mei 2014 ratusan ribu buruh akan turun ke jalan menyuarakan tuntutannya? Nanti dulu. Sebelum buruh euforia dengan keberhasilan menekan pemerintah untuk mengesahkan 1 Mei sebagai Hari Libur, ada baiknya kita analisa niat “baik” SBY tersebut yang meliburkan 1 Mei dengan melihat aturan main unjuk rasa atau penyampaian pendapat di muka umum. .....baca selengkapnya di.... www.rimanews.com

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Monday, September 3

Kelas Pekerja dan Revolusi Indonesia

Tulisan ini di tulis oleh Hidayat Purnama
Dari corak kehidupan buruh yang senasib dan sepenanggungan, sama dalam hal makan, tidur dan kerja, juga upah dan nasib pada umumnya, maka solidaritas dan sosialisme lebih mudah terpatri dalam gerakan buruh. Semakin sadar buruh bahwa dirinya adalah seorang manusia yang
Bagikan Ki Bro:

Monday, August 15

Relasi Buruh, Majikan dan Negara

oleh Nophee Yohana
Berbicara mengenai buruh haruslah diawali dengan logika relasi yang terjadi antara buruh dan majikan. Dalam relasi buruh-majikan, posisi buruh selalu subordinatif terhadap majikan. Hal ini merupakan akibat dari ketidakseimbangan kekuasaan ekonomi yang selanjutnya memunculkan ketidakseimbangan dalam kekuasaan politik.
Bagikan Ki Bro:

Sunday, December 27

Menyikapi Politik Buruh

Menyikapi Politik Buruh


Surya Tjandra

Sebuah pertemuan bersejarah kaum buruh Indonesia bertajuk ”Trade Unions Meeting for Political Consensus” dilaksanakan di Sukabumi, 23-25 November 2009. Pertemuan ini digagas Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan diselenggarakan bersama dengan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Friedrich Ebert Stiftung Indonesia, dan the American Center for International Labor Solidarity, serta dihadiri oleh sekitar 50 aktivis dari sejumlah organisasi.
Diberitakan Kompas (23/11), pertemuan ini bertujuan membangun gerakan buruh yang lebih solid, antara lain terkait isu reformasi jaminan sosial, pengawasan ketenagakerjaan, dan perlawanan terhadap sistem kontrak. Wacana untuk melebur ketiga konfederasi tersebut juga digulirkan (Kompas, 24/11).
Pertemuan ini bersejarah karena memang baru pertama kali dilaksanakan sejak reformasi 1998, di mana berbagai serikat buruh arus utama berkumpul dan membicarakan isu yang selama ini praktis disingkirkan dari wacana para aktivis serikat buruh sendiri: politik.
Reformasi memang memberikan kebebasan buruh untuk berorganisasi, tetapi itu tidak berarti pengaruhnya juga meningkat. Setelah mengalami depolitisasi dan deorganisasi selama 30 tahun Orde Baru, seiring reformasi, serikat buruh mulai membangun pengaruhnya meski masih jauh dari yang diharapkan.
Bukti paling nyata adalah rendahnya keanggotaan serikat buruh, sementara fragmentasi gerakan buruh relatif tinggi. Pada awal 1998 tercatat hanya ada 1 serikat buruh, tahun 2002 menjadi 45, dan tahun 2005 menjadi 90. Namun, jumlah keanggotaan serikat buruh justru menurun dari 8.281.941 orang tahun 2002 menjadi 3.338.597 orang tahun 2005, atau hanya 6-7 persen dari total 50 juta buruh di sektor formal (data hasil verifikasi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) .
Ini berakibat pada lemahnya posisi tawar serikat buruh dalam penentuan kebijakan yang menyangkut buruh, seperti politik pasar kerja maupun khususnya perundingan kolektif. Lemahnya posisi tawar serikat buruh mengakibatkan ketergantungan buruh pada ketentuan undang-undang yang berlebihan. Sebagian besar buruh Indonesia, misalnya, masih amat bergantung pada ketentuan upah minimum untuk menaikkan upahnya.
Sebagian besar buruh praktis hanya naik upahnya kalau upah minimum juga naik. Ini yang menjelaskan mengapa upah minimum selalu menjadi isu panas setiap tahun. Serikat buruh juga tidak banyak berpengaruh terhadap fakta 30 persen buruh tetap dan 50 persen buruh lepas bekerja dengan upah di bawah ketentuan upah minimum (Saget 2006). Selain itu, sejak sepuluh tahun reformasi, upah riil buruh praktis tidak pernah naik dari kisaran Rp 200.000 per bulan dibandingkan dengan sebelum 1998 yang setiap tahun rata-rata naik 5 persen (Dhanani dkk 2009).
Serikat buruh barangkali memang sudah diakui keberadaannya oleh pemerintah dengan, misalnya, pengesahan Undang-Undang Serikat Pekerja/Serikat Buruh Tahun 2000 serta ratifikasi Konvensi ILO No 87 dan 98 tentang kebebasan berorganisasi dan berunding bersama. Namun, serikat buruh tampaknya masih belum juga diakui oleh pengusaha.
Upaya serikat buruh untuk memperjuangkan kesejahteraan anggotanya sering kali berakhir dengan pemutusan hubungan kerja pengurusnya atau bahkan penutupan perusahaan secara sepihak. Oleh karena itu, pertemuan seperti di Sukabumi dan khususnya gagasan untuk menyatukan ketiga konfederasi tersebut adalah sesuatu yang memang sudah sepatutnya dilakukan kalau memang serikat buruh ingin menguatkan posisi tawar di hadapan pengusaha dan pemerintah, juga masyarakat.
Namun, belum sempat hasil-hasilnya disosialisasikan, pertemuan tersebut sudah mengundang kritik dari sebagian kelompok buruh. Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP), misalnya, menilai ketiga konfederasi yang hadir tidak menyuarakan kepentingan buruh, malah justru sering mendukung kebijakan pemerintah yang merugikan buruh. KP-PRP juga menilai para elite pimpinan ketiga konfederasi tersebut hanya mempermainkan nasib semua buruh di Indonesia demi kepentingan pribadinya, sementara buruh tetap saja miskin (Bisnis Indonesia, 23/11).
Fenomena ini sekali lagi membuktikan betapa gerakan serikat buruh di Indonesia masih lemah.
Di negara maju, seperti Eropa, konsolidasi dan penggabungan organisasi buruh yang berbeda sudah berlangsung sejak dekade lalu. Khususnya seiring penurunan jumlah anggota, yang berarti juga pengaruh, serikat buruh akibat globalisasi. Dengan kata lain, penyatuan dan penggabungan serikat justru untuk memperkuat posisi berhadapan dengan pengusaha dan pemerintah.
Di Indonesia, dalam situasi lemahnya serikat, upaya konsolidasi gerakan serikat buruh dengan mudah dikaitkan dengan manipulasi elite pimpinan buruh, yang ujungnya penundukan terhadap penguasa dan pengusaha, untuk kepentingan pribadi elite serikat buruh. Dalam konteks itu, kritik KP-PRP harus dilihat sebagai upaya untuk demokratisasi internal gerakan serikat buruh. Dalam arti inisiatif para elite pimpinan serikat buruh, sebaik apa pun, perlu juga mendapatkan dukungan dari basisnya. Alih-alih mendebatkan siapa lebih benar, barangkali akan lebih bermanfaat untuk terus membangun persatuan buruh yang sesungguhnya.
Serikat buruh penting untuk didukung karena ia mewakili satu dari sedikit institusi yang dapat mendorong sebagian tuntutan untuk pemerataan dan keadilan sosial di masyarakat. Sejarah menunjukkan semua alternatif dari kecenderungan saat ini yang tidak menguntungkan masyarakat secara umum didasarkan pada pengorganisasian dari kekuatan ini, yang, tidak dapat dihindarkan, seperti dulu juga terjadi di Eropa, adalah proses yang panjang dan sering kali menyakitkan.
Surya TjandraDosen FH Unika Atma Jaya, Jakarta; Sedang Menempuh Studi Bidang Hukum Perburuhan di Institut Van Vollenhoven, Universitas Leiden, Belanda
"belajar selagi muda, berjuang selagi bisah"
Bagikan Ki Bro: