Showing posts with label 3 penguasa pattae. Show all posts
Showing posts with label 3 penguasa pattae. Show all posts

Sunday, February 12

Pattae’ Antara Etnis Tunggal dan Sub Etnis

Mencari eksistensi suatu etnis atau suku di beberapa daerah memang sangat sulit ditemukan karena harus memenuhi berbagai syarat apakah etnis merupakan etnis yang asli ataukah hanya sebagai sub etnis dari etnis sebelumnya atau etnis tunggal. Untuk menentukan suatu etnis atau suku, tentunya harus memiliki perbedaan mencolok dengan etnis atau suku lain dengan mencirikan khas kelompok atau etnis tertentus eperti perbedaan budaya, bahasa, agama dan prilaku dan juga cirri-ciri biologisnya. 
Bagikan Ki Bro:

Wednesday, October 15

Sekali Lagi Tentang “Tri Logi” Gerakan Mahasiswa/pemuda Revolusioner


“Saya harus mengatakan  bahwa tugas-tugas dari pemuda secara umum, Liga Pemuda Komunis dan khususnya semua organisasi lain, bisa diringkas dalam satu kata tunggal, yaitu: b e l a j a r. (Lenin October 2, 1920)”

Salam demokrasi pembebasan!
Salam pemberontakan!

Dalam perjalanannya, gerakan mahasiswa dan pemuda pada umumnya telah mengalami kebingungan dalam internal gerakan mahasiswa/pemuda itu sendiri, ini terlihat dari bayaknya mahasiswa/pemuda yang terjebak dalam perpeloncoan, pragmatisme dan meramu issu-issu yang sangat elitis, dan semakin menjauhkan diri dari problem-problem rakyat. seakan terdapat tempok penghalang nun kokoh antara rakyat dan mahasiswa/pemuda sebagai pelopor gerakan perubahan. Mahasiswa/pemuda yang terkurung dan semakin membusuk dalam kampus itu dan tidak sedikit dari mereka merelakan diri menjadi pelayan setia pada si tuan penindas rakyat. Mahasiswa/pemuda yang memiiki niai lebih dalam aktivitas akademik, sebagai ruang konsumsi pandangan-pandangan begitu lebih luas dan kesempatan lebih banyak dibandingkan dengan rakyat yang sibuk memperbaiki ekonominya seperti bekerja sebagai buruh pabrik, bertani, dan berlayar sampai berbulan-bulan lamanya, sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar, mahasiswa/pemuda secara umum seyokgianya dapat memamfaatkan kesempatan emas itu untuk belajar demi kepentingan rakyat tertindas secara umum. Selain itu, mahasiswa/pemuda juga harus mengorganisasikan diri, dan membantu perjuangan-perjuangan rakyat, untuk terlepas dari belenggu kapitalisme yang menindas rakyat pekerja dalam konsep “trilogi”  sebagai rumus umum baik perjuangan organisasi mahasiswa/pemuda revolusioner, maupun organisasi mahasiswa yang di cap moderat sekaipun.

Lahirnya Konsep brilian yang disebut “Trilogy”

Mungkin kawan-kawan semua sudah tau apa itu trilogi, dan mungkin bahkan telah mempraktekkannya dalam gerak perjuangan kawan-kawan, baik mahasiswa/pemuda yang sedang berlawan, maupun pelajar (siswa). Nah, dalam “trilogy” tersebut  seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya, terdapat tiga konsep yang menjadi rumusan atau suatu hokum gerak yang kemudian di kontekstualkan dalam perjuangan mahasiswa dan pemuda revolusioner. Tiga rumusan yang dimaksud diatas yaitu: “study, organization, and revolution”.

Mungkin akan menjadi berbeda secara konsep dan prakteknya dengan trilogy lain yang banyak dikemukakan dan di praktekkan oleh banyak organisasi mahasiswa. Disini ada tiga rumus dalam persfekif perjuangan gerakan mahasiswa dan pemuda revolusioner dan konsep ini bisa bersifat umum bagi semua organisasi mahasiswa, trilogy ini telah sejak awal dirumuskan oleh organisasi gerakan mahasiswa/pemuda seperti Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia pada konggres ke-II CGMI pada tahun 1961 (baca: trilogi cgmi) dan telah menjadi platform  perjuangannya, sehingga pada waktu itu banyak anggota CGMI yang bersemangat ingin belajar di Negara Kuba untuk belajar soal pertanian dengan melihat potensi alam dan rakyat Indonesia banyak bergerak di sektor ekonomi pertanian.

Namun, tidak lama kemudian konsep brilian ini, kandas di awal perjalanannya karena adanya konspirasi politik dari kubu militer Angkatan Darat (AD) dan CIA pada waktu pecahnya kudeta militer 1965-66, dan Soekarno lengser dari tampuk kekuasaannya. Tetapi, konsep itu, tidak serta merta lenyap dari permukaan bumi Indonesia seiring dengan dibuburkannya dan dilarangnya organisasi mahasiswa revolusioner seperti CGMI oleh pemerintah otoriter Soeharto, bahkan konsep itu banyak dipakai oleh organisasi mahasiswa revolusioner, dan menjadikan trilogy CGMI sebagai bentuk strategi-taktik maupun sebagai slogan perjuangannya, dan akan lebih banyak lagi organisasi-organisasi mahasiswa, pemuda, dan pelajar yang akan menggunakan trilogy sebgai konsep perjuangannya karena belajar, berorganisasi, dan revolusi menjadi hal yang mutlak dipraktekkan oleh organisasi mahasiswa yang mengaku revolusioner.

Tiga rumusan penting ini, dalam sejarah gerakan mahasiswa/pemuda revolusioner telah menjadi perdebatan yang panjang dikalangan aktivis mahasiswa dan pemuda revolusioner, dari kesapahaman tentang 3 rumusan penting itu terdapat perdebatan panjang pada tataran bagaimana mengkontekstualisasikan, akan tetapi perdebatannya hanya terbentur pada primer dan sekunder, pada yang mana lebih utama dilakukan dan mana yang menjadi factor pendukung dalam praktek perjuangan mahasiswa/pemuda revousioner, apakah belajar, organisasi ataukah berjuang, atau mempraktekkan dari tiga rumusan teori itu sekaligus secara bersamaan? Bukan pada persoalan objektivitas konsep tersebut. Mungkin akan kita coba ulas lebih jauh tentang “trilogy” gerakan mahasiswa/pemuda revolusioner itu secara detail selanjutnya.

Tri Logi Sebagai Teori Mahasiswa Revolusioner


Trilogi ini memenuhi kebutuhan di tiga ranah pembelajaran yaitu ranah kognitif (nalar), afektif (kepekaan, kepedulian) dan psikomotorik (keterampilan praktek). Metode ini menular dan diwariskan ke kelompok-kelompok diskusi dan gerakan mahasiswa lain hingga sekarang.

Belajar, berorganisasi dan berjuang (revolusi), dari tiga rumusan tersebut diposisikan sederajat dan sama pentingnya begitu pula prakteknya secara bersamaan. dimana mahasiswa dan pemuda progresif revolusioner di tekankan untuk belajar, baik ilmu social, ekonomi, politik, dan bahkan sampai pada ilmu teknik untuk menciptakan teknologi modern yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan dan berkesusaian dengan kebutuhan rakyat sampai pada cita-cita sosialisme sebgai negasi dari system kapitalisme. Tujuan ini pernah disampaikan oleh kawan D.N Aidit pada konferensi nasional CGMI, dia mengatakan seperti ini: “..saya berharap saudara-saudara dapat menciptakan suasana berkompetisi disetiap universitas diseluruh negeri untuk menjadikan diri “patriot dan ahli” yang militant dan bercita-citakan sosialisme.” Sangatlah tepat apa yang disampaikan oleh aidit itu. Kemudian organisasi juga begitu penting dimana mahasiswa sebagai mahkluk social yang tidak terlepas dari manusia lainnya tentunya mengharuskan kita membentuk organisasi revolusioner dalam menjalankan dan mempraktekkan teori-teori dari aktivitas belajar kita dan juga menjadi wadah mempersatukan kepentingan kita.

Kemudian ketiga adalah berjuang. Dalam hal ini tentunya menekankan pada bentuk praktek secara progresif revolusioner, dimana berjuang merupakan bentuk praktek nyata dalam meyujudkan tujuan yang telah kita cita-citakan yaitu suatu system memanusiakan manusia dari teori yang dihasilkan dari aktivitas belajar, dan organisasi untuk mendisiplinkan kerja-kerja agar dapat merumuskan apa yang menjadi kebutuhan dari perjuangan kita sebagai mahasiswa dan pemuda yang progresif revolusioner untuk melawan system kapitalisme yang semakin teorganisir dan menindas ini. Dalam tiga rumusan ini pula,  mereka-mereka yang "canggih" dalam berdiskusi bisa saja sangat "kedodoran"dalam praktek jika ia tidak cakap dalam mempelajari situasi secara objektif. Anggota yang dihargai bukan hanya anggota organisasi yang mahir mengemukakan pendapat dan memenangkan opini, tetapi juga ia yang mampu memimpin massa rakyat. Mewujudkan apa yang didiskusikan melalui kerja-kerja praktis adalah salah satu kemampuan yang patut dihargai dalam organisasi. Melalui praktek langsung, anggota organisasi diuji apakah ia benar-benar berlaku sebagaimana yang ia ceramahkan. Dalam praktek, para anggota organisasi mahasiswa dan pemuda revolusioner berhadapan dengan kondisi objektif yang membutuhkan penyelesaian berupa tindakan yang objektif pula dengan tidak mengabaikan kondisi subjektifitasnya.

Ketiga rumusan penting ini saling merasuki dan mensyaratkan, dia berjalan secara bersama-sama. dan tentunya haruslah berkesesuaian dengan kondisi objektif dimana kita ingin menteorikan dan mempraktekkannya, siapapun itu, baik mahasiswa, maupun pelajar, buruh, tani, nelayan dan bahkan rakyat tertindas secara umum  bias menggunakan trilogy ini. Tanpa belajar, suatu organisasi akan kehilangan landasan pemikiran yang kritis. Tanpa perjuangan, suatu organisasi akan berkutat pada pemikiran subjektif dan jauh dari objektivitas, tanpa belajar, berorganisasi, dan berjuang kita akan terombang-ambing didunia ini dengan arah dan tujuan yang tidak jelas dan akan terpecah dengan berkeping-keping.

Penulis adalah anggota Front Mahasiswa Demokratik – Sentra Gerakan Muda Kerakyatan
FMD - SGMK
Belajar, Bororganisasi, dan Revolusi !

belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Friday, July 26

CELOTEH KEKECEWAAN DALAM SEBUAH PEMBENARAN

Mohon maaf jika artikel dan gambar tidak nyambung, tapi orientasi artikel adalah gambar ini.
saya ingin menulis dengan segala bentuk pengalaman buruk saya, baik dari dunia pendidikan sampai pada dunia kerja yang sampai sekarang belum aku dapat juga. ini mungkin karena kurang informasi tentang perkembangan dunia kerja dan pendidikan atau memang adaya tindakan sensor yang dilakukan pihak pemerintah mengantisifasi lonjak minat dalam persaingan atau memang segaja di sensor karena sebagian banyak pihak ingin menikmatinya sendiri-sendiri dengan mekanisme "nepotis". 

tak usah saya panjang lebar membahas tentang nepotisme didunia pendidikan dan dunia kerja. banyak kampus atau perusahaan yang menerapkan itu. dan keluarga-keluarga lain yang bergabung didalam, akan menjadi babu. tak dapat bergaining position. nah, mungkin teman-teman bloger/ pembaca sudah tau masalah ini. dan bahkan mungkin ada diantara teman-teman yang merasakan hal seperti ini, baik itu dia adalah pihak keluarga, maupun pihak non keluarga. 

mengapa seperti demikian,? ini tidak terlepas dari budaya masyarakat indonesia yang sangat rasis, mengapa saya katakan rasis adalah mungkin dalam fikiran mereka, bahwa yang namanya non keluarga tidak akan menjadikan kita sejahtra dalam menjalankan kehidupan ini, makanya di memprioritaskan keluarga mereka terlibat dalam usaha maupun dalam dunia pendidikan. betul atau salah silahkan teman-teman pikir dan bayangkan betapa rasisnya kita.

apakah benar melakukan hal demikian? tentunya, yang paling menentukan benar atau salah tindakan seperti itu adalah tergantung posisi kita dimana, contohnya adalah saya dipihak keluarga tentunya kasus nepotisme itu telah disahkan dan dibenarkan, jika kita bukan bagian keluarga tentunya kita akan tidak bersepakat. silahkan pilih jawaban yang paling tepat. 

dan hal demikian akan berbedah jika kita langsung menkajinya secara history, secara history memang dibenarkan tapi hanya sebatas kemanusiaan, maksudnya adalah kita manusia makhluk sosial dan tentunya kita tidak bisa terlepas dari yang namanya manusia lain atau bantuan manusia lain. dalam hal ini nepotisme dibenarkan karena semua manusia itu adalah bersaudara, satu darah yaitu darah manusia. tetapi mungkin menafsiran akan menjadi beda jika kita lihat dalam kasus sekarang atau melihat secara marga atau garis keturunan dari manusia mana kita lahir. semakin padatnya manusia dibumi ini semakin banyak nya perpedaan, garis keturunan secara formal hanya dihitung sampai pada keturunan ke 7 (tujuh). terlepas dari keturunan ke 7 maka garis keturunan terputus. pertanyaan besar kok cuman sampai pada keturunan ke 7.? ada yang bisa menjawab silahkan balas opini ini dan mari kita berdiskusi tentang ini. 

saya bisa banyangkan jika teman-teman mendaftar disebuah perguruan tinggi atau perusahaan dan setelah memenuhi prasyarat menjadi anggota atau member kampus dan kemudian mengitu tes kelayakan masuk atau tidak diterimah, nah jika tema-teman tidak diterimah karena kita bukan keturunan atau keluarga bagai sakitlah hati kita. mungkin saja anda diterimah dan pasti diterimah tapi ingat posisi tinggi sulit untuk kita dapatkan. kecuali keturunan ke 7 tak punya anak lagi, tapi kan masih ada namanya anaknya sepupu/anak saudara.

ini adalah bentuk kekcewaan saya karena ngak diterimah sebgai mahasiswa disalah satu perguruan tinggi yang tidak perlu saya sebutkan namanya. tapi jika anda merasakan apa yang saya rasakan sekarang ini, mungkin teman-teman bisa menebak kampus mana saja yang saya maksud. 

sekian dari saya, dan mungkin ini bukan salah satu artikel kekecewaan saya, tapi akan muncul lagi artikel/opini yang sama seperti yang saya paparkan diatas tadi. saya mengakui memang sulit membuang budaya nepotisme itu, tapi saya lebih mengakui sangat berani jika ada yang menolak melakukan hal yang sama, meskipun dalam agama (ini kata salah satu penceramah yg pernah saya dengar) nepotisme dibenarkan dalam agama dan dianjurkan, haha sesat atau tidak silahkan nilai sendiri. berani menjadi juri, pengamat, bagi dirikita sendiri itu lebih muliah jika kita hanya mengikuti arah mata akin bertiup

saya Bustamin B, terimah kasih dah berkunjung di blog saya, SEKIAN  
belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:

Monday, July 8

Expedisi Merah Pemuda Pattae'

Gambar ini adalah penelusuran team ekspedisi merah pumudah pattae kedua dari yang sebelumnya kami laksanakan di salah satu daerah di polewali mandar kecamatan tapango kabupaten polewali-mandar, tepatnya tidak jauh dari kampung kami "patte" (desa batetangnga
Bagikan Ki Bro:

Sunday, July 7

Tuesday, December 27

Budaya Pattae


 menggali kembali sejarah pattae yang beberapa abad hanya menjadi bahan cerita yang tek pernah dibukukan, menggali kembali budaya pattae adalah salah satu bentuk keprihatinan terhadap budaya luhur nenek moyang yang sangat kaya dengan sifat pemberani, berpihak kepada rakyatnya, dan saling tolong menolong dalam memerangi
Bagikan Ki Bro:

Friday, October 2

3 penguasa


Tiga Penguasa Gerilyawan Di Tanah Pattae
Mengapa aku mengambil sebuah judul tiga gerilyawan di tanah pattae kerena, ketika kita mendengar dan mencoba menganalisah, kisah dari tiga penguasa pattae ini hanya berkeliaran secara sembunyi dan tidak menampakkan sebuah etnis yang mereka bangun jauh dari penguasa feodal pada itu, dengan strategi tiga penguasa tadi akan mengambil sebuah kebijakan sendiri tanpa melalui pertimbangan atau musyawarah anggota gerilyawan lainnya. Dengan sifat dan gaya yang mereka pake sama sekali adalah sebuah bentuk kebebasan atas penguasaan kerjaan-kerajaan lain seperti kerajaan konsolidator mandar.
Dengan sifat yang dimiliki para gerilyawan yang tidak ingin dikenal banyak dari kalangan kerjaan lain, sangat bayak meninggalkan sebuah kesan dan pesan untuk anak cucu mereka, yang pertama yang mereka sarankan kepada keturunan mereka adalah bahwa jangan sekali-sekali tafakur dengan apa yang kita sedang hadapi (jangan memandang enteng sesuatu yang belum kita kenal), yang kedua adalah jangan sekali-kali menampakkan kekuasaan kita atas masyarakat atau naggota lainnya yang berada dalam komunitas kita.
Dalam sejarah yang aku kenal, bahwa dengan adanya etnis pattae di tanah mandar ini sangat tidak diketahui bayak kalangan, dan memang tak dipungkiri dengan jumlah anggota yang sangat sedikit tak akan bisa memunjulkan sebuah kekuasaan tersendiri yang mereka miliki, tetapi dengan kecerdasan tiga gerilyawan ini sangat diakui beberapa kerajaan di sulawesi selatan ini, contohnya saja dengan kerajaan bone yang dikenal sebagai kerjaan terbesar di tanah sulawesi ini.
Dengan kecerdikan dan kecerdasan yang mereka miliki, mendapat perhatian besar dan memiliki nilai tawar dari beberapa kerajaan besar di sulawesi terutama kerajaan bone, dan dengan adanya kepercaan terhadap ketiga gerilyawan ini kerjaan bone memberikan sebuah hadiah berupa persenjataan perang rakyat bone. Ini diberikan karena tiga sekawan tadi telah berhasil mengabulkan keinginan seorang raja dari kerajaan bone untuk memenggal kepala dari kerjaan yang telah melawan kerajaan besar yaitu kerajaan bone, dengan strategi  cerdik yang mereka miliki dengan waktu yang singkat bisa menumbangkan dan mengambil kepala raja yang di lawan tadi (aku lupa nama kerjaan itu).
Dan masih bayak lagi yang mereka taklukkan dengan kekuatan yang sangat sedikit tetapi mempunyai kreativitas dalam persoalan memancing lawan untuk takut. Sebenarnya masih banyak lagi yang lain yang mereka taklukkan dengan kecerdikannya itu namun aku tak usah membahas terlebih jauh, ini hanya persfektif dari keturunan dari gerilyawan yang tiga tadi.
Membahas sejarah yang tidak jelas apakah itu adalah sejarah yang berdasarkan bukiti atau hanya mengajak kita untuk berafology untuk tetap mendapat pengakuan dari etnis lain. Yang aku pikirkan dalam hal ini adalah persoalan bagaimana tiga gerilywan tadi mempertahankan hidupnya, apakah dengan menghianat dengan anggotanya atau benar-benar dengan ketulusan hati untuk membantu kerajaan dan mendapat sebuah hadiah dari kerjaan tersebut. 

Bagikan Ki Bro: