Tuesday, January 3

Kampus, Kost, Kampung


Pada saat saya masih kuliah S1, saya pertama kali mendengar istilah ini dari senior saya dari kampung. Ketika itu, senior saya memberikan satu wejangan-wejangan khasiatnya kepada penerus-penerusnya yang akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa,
“kalo mahasiswa itu jangan hanya mengenal 3K, apa itu? Kampus, Kost, dan Kampung” begitu seingat saya, dan mungkin anda juga pernah mendapat perkataan seperti ini dari senior-seniornya dikampus. Pada awalnya saya berfikir, bahwa apa yang disampaikan para senior ini adalah hal yang semestinya dijalani sebagai mahasiswa rantau, yah..! memang semestinya, karena kampus adalah tempat kita kuliah, kost sebagai tempat istirahat sepulang kuliah, dan kampung adalah tempat kita kembali kepada orang tua, dan teman-teman yang kita tinggalkan dari kampung. Setelah mendengar panjang lebar penjelas dari senior saya tentang 3K tersebut, apa yang terlintas dalam benak pikiran saya, berbeda apa yang dimaksud. 
Istilah Kampus, Kost, Kampung atau disingkat “3K”, ternyata merupakan istilah yang ditujukan kepada mahasiswa yang tahunya cuman kuliah dikampus, setelah kuliah pulang kekos untuk tidur, dan setelah musim libur semester tiba, memilih untuk pulang kampung, dan begitu seterusnya. Namun, era sekarang ini mungkin akan berlainan dengan kondisi masa lalu, dimana pada masa sebelumnya, biaya hidup “mungkin” belum cukup banyak dibandingkan sekarang ini yang mengeluarkan duit yang banyak seperti duit untuk beli pulsa, internet, transportasi, makanan, kos-kosan, dan keperluan sehari-hari lainnya yang kian tahun semakin mahal, termasuk juga biaya kuliah yang semakin mahal dari tahun ketahun. Akan tetapi hal ini jangan sampai hanya menjadi alasan pembenaran. Jika hanya karena persoalan biaya mahal sehingga aktivitas rutinitasnya cuman kampus, kos, dan kampung. Saya kurang setuju, meskipun ada sebagian orang memang benar-benar tidak mampu dan hanya mengandalkan bea siswa, tetapi ini juga tidak menjadi alasan sepenuhnya.
Orang tidak bisa memanjat pohon kelapa dengan tinggi 10 meter, jika orang itu memang tidak bisa memanjat pohon kelapa. Kecuali latihan beberapa hari untuk bisa memanjat. Analogi ini akan menjelaskan alasan yang saya tidak bisa terima dan merupakan alasan pembenaran dimana mahasiswa hanya memilih kampus, kos, dan kampung sebagai aktivitas kesehariannya selama menjadi mahasiswa. Bagaimana bisa ada seseorang memilih kuliah jauh-jauh dari kampung halamannya jika biaya hidup dan kuliah tidak mampu? Bahkan orang yang tidak mampu sekalipun bisa dengan biaya bantuan dari pemerintah seperti bea siswa bidik misi, bea siswa berprestasi, dan berbagai macam bentuk bea siswa. Jadi, alasan hanya memilih kampus, kos, dan kampung sebagai aktivitasnya karena biaya mahal, merupakan alasan pembenaran dan bisa dikatakan sebagai korban hasutan dan buah hasil dari hegemoni kapitalisme yang takut akan kritik, dan perubahan sosial yang bisa lahir dari intelektual-intelektual yang progresif. Kita sudah termakan rayuan syetan, bukan kah syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia? Dan itu harus dilawan.
Istilah Kampus, Kos, dan Kampung ini merupakan sindiran halus tetapi menyayat hati, kepada mahasiswa yang tahu nya hanya Kampus, Kost, dan Kampung, Tanpa ada aktivitas lain. Aktivitas lain itu seperti menambah pengetahuan, wawasan, kreativitas, dan tentunya memperluas langkah, karena telah mengenal banyak kawan. Hal ini yang kemudian tidak diperhatikan oleh generasi di era dimana pendidikan telah dikomersialisasikan seperti sekarang ini, kampus yang secara subtansinya adalah tempat mendapatkan ilmu pengetahuan, telah menjadi perusahan pencetak manusia-manusia yang patuh, penakut, dan menjadi tenaga-tanga kerja murah, atau menjadi seorang penindas baru.
Kebutuhan untuk menambah wawasan, ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kritis melihat situasi sosial, ekonomo, dan politik negara dan dunia yang tidak lagi menjunjung tinggi kemanusiaan, adalah merupakan sautu tugas pokok yang harus di jalani sebagai seorang mahasiswa. Bukan hanya tahu mengerjakan tugas kuliah, mengejar IPK, ke kost tidur maen game, kemudian pulang kekampung setelah libur kuliah tiba dan seterusnya.
Saya akan menambahkan hal yang penting dilakukan oleh mahasiswa selain yang saya sudah sebutkan diatas tadi, yaitu mahasiswa seharusnya lebih kritis melihat penomena sosial yang ada sekarang ini, dimana kesenjangan sosial, ekonomi dan sebagainya telah menjadi tanggung jawab seorang mahasiswa yang memilki waktu untuk belajar dan menganalisis situasi kemanusiaan yang tidak manusiawi lagi. Pendidikan mahal, biaya hidup mahal, semuanya serba mahal dan harus menggunakan uang untuk menyelesaikan semuanya dan hanya segelintir orang yang memiliki uang dari sekian uang yang di edar oleh pemerintah kepada masyarakat. belum lagi pembungkaman demokrasi yang terus saja dilakukan oleh penguasa. Baik itu penguasa atas negara, maupun penguasa kampus yang ikut berperan dalam pembungkaman demokrasi mahasiswa dan rakyat secara luas dan tersistematis.
Memilih terjerumus kedalam hegemoni kapitalisme, yaitu mendorong mahasiswa hanya bisa tahu Kampus untuk kuliah dan lulus, Kos, dan Kampung adalah merupakan suatu kemunduran. dan jika tetap memilih jalan yang di inginkan kapitalisme ini, maka seperti yang dikatakan oleh Widje Thukul bahwa kita akan telah memperpanjang sejarah perbudakan manusia atas manusia lainnya.
Belajar Selagi Muda, Berjuang Selagi Bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment