Sunday, August 28

Anti Rokok Dan Berbagai Alasan Pembenaran



Masih seputar issu akan di naikannya harga rokok sebanyak Rp 50.000/ bungkus. Harga rokok ini akan mulai naik tahun depan (2017), hal ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan perokok, anti rokok, dan kepentingan pemerintah,  dengan berbagai macam analisis perhitungan untung-rugi mengenai pendapatan negara dari bea cukai rokok. Sebenarnya, tulisan ini adalah merupakan tulisan tentang pandangan saya yang kedua kalinya saya buat tuk
menanggapi isu naiknya harga rokok. Tulisan pertama merupakan tulisan yang sangat singkat, dan merupakan  tulisan yang penuh dengan amarah, mendengar harga rokok akan naik, dengan untaian alasan yang mengada-ada dari beberapa pihak yang mendukung naik nya harga rokok. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama saya, yang saya tulis, dan share di blog pribadi saya (hhtp://bustamin-against.blogspot.com). Bagi saya secara pribadi, jika kalau pun harga rokok benar-benar terjadi kenaikan harga, saya pun tidak begitu panik mendengarnya, karena melihat masalah perekonomian negara ini yang semakin terpuruk, maka wajarlah pemerintah menaikkan beberapa bea cukai, dan saya yakin bukan hanya bea cukai rokok, bea cukai lainnya pun akan naik. Penekanan dalam tulisan ini hanya tentang bagaimana bisa rokok naik, untuk apa, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan? Serta membantah berbagai analisis konyol dari beberapa lembaga survey, komunitas yang anti terhadap rokok.  
  
Pemerintah dalam hal menaikkan bea cukai rokok, sangat berhati-hati dalam memutuskan naik tidaknya harga rokok tersebut. Bagaimana tidak, konsumen rokok di indonesia sangat tinggi, menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang anti rokok, angka perokok di indonesia mencapai 70% dari 250 juta jiwa populasi penduduk indonesia, meskipun data ini belum sepenuhnya jelas (valid) yang melihat pariabel penilaiannya seperti, rokok, dan harga rokok yang di hisap.  Jika pun data ini benar adanya, maka keputusan pemerintah sudah tepat untuk menaikkan harga rokok, karena konsumen nya sangat tinggi, dan bisa menambah penerimaan bea cukai negara atas rokok tapi, apakah itu efektif? Nanti, saya akan membahas nya dari sudut pandang saya sendiri.  Pertama-tama, mari kita lihat berapa sumbangan pajak rokok ke negara? Sumbangan bea cukai rokok pun sangat tinggi kepada negara, pada tahun 2015, lembaga Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengungkapkan bahwa 95% bea cukai itu didapat dari indutri tembakau, diluar dari industri temkau, pendapatan negara dari bea cukai hanya 5% saja, artinya bahwa rokok merupakan penyumbang terbesar negara, sehingga  pemerintah dalam hal ini sangat berhati-hati memutuskan apakah harga rokok akan dinaikkan atau tidak. Namun, dilain pihak yang anti terhadap rokok, juga menekan terus menerus pemerintah agar menaikkan harga rokok dengan berbagai asumsi. 

Berikut ini, saya akan mencoba mengurai beberapa alasan kenapa harga, dan cukai rokok naik yang disampaikan oleh para pihak yang anti rokok dan mendukung kenaikan itu, serta mencoba mengurai pendapat pribadi saya tentang alasan-alasan itu, yang secara pribadi tidak solutif dan cenderung mengada-ada, serpti: harga rokok Indonesia lebih murah ketimbang negara tetangga, mengkonsumsi rokok sebagai pemicu angka kemiskinan, meningkatkan cukai rokok demi pendapatan negara, dan menekan jumlah perokok di Indonesia. Berikut penjelasan yang bisa samapaikan di tulisan ini.  

1.        Harga rokok di indonesia lebih murah ketimbang negara-negara tentangga

Ungakapan ini memang benar adanya, bahwa harga rokok di indonesia lebih murah di bandingkan dengan harga rokok di beberapa negara tetangga seperti Malaysia, dan Singapura, tetapi ini bukan menjadi suatu alasan Indonesia harus ikut-ikutan dengan negara tetangga yang secara ekonomi negaranya membaik dibandingkan dengan Indonesia. Di Malaysia, rokok dihargai RM 12 atau sama dengan Rp 44.000 / bungkus, dan di Singapura harga rokok seharga $9.43 atau sama dengan Rp 124.476 / bungkus. Sedangkan di Indonesia, rokok hanya di hargai Rp 17.000-Rp 20.000 / bungkusnya. Maka dari perbandingan itu, menjadi pembenaran pemerintah dan beberapa pihak pendukungnya untuk menaikkan harga rokok. Tapi harus di ingat juga bahwa nilai mata uang di negara Malaysia dan Singapore berbeda dengan nilai mata uang Indonesia, dimana RM 1 ringgit malaysia senilai Rp 3.605, dan di Sigapura SG$ 1 senilai dengan Rp 9.787.

Dengan melihat perbandingan tersebut, maka wajar saja harga rokok Singapora, dan Malaysia lebih tinggi dibandingkan Indonesia, dan bukan hanya itu, harus juga dilihat dari pendapatan perkapita masyarakat indonesia, Malaysia dan Singapora, dan ini sangat jauh bedanya, belum lagi industri negara tetangga tersebut lebih kuat ketimbang industri di indonesia yang kebanyakan dikuasai oleh asing. Maka dari itu pula bahwa pendapatan negara tetangga lebih tinggi ketimbanga Indonesia yang tergantung dari bea cukai/pajak, dengan sumber pendapatan bea cukai tertinggi ada pada industri rokok. Jadi, alasan ini perbandingan harga rokok di indonesia dengan negara tetangga bukan menjadi alasan yang objektif, tapi lebih pada riak anti rokok yang sudah di hegemoni oleh pengusaha-pengusaha asing untuk mengebiri kehidupan rakyat petani tembakau indonesia.     

2.        Konsumsi rokok sebagai pemicu kemiskinan di indonesia

Lembaga konsumen indonesia mengemukakan beberapa hasil survey dari Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa salah satu pemicu kemiskinan di indonesia karena mengkonsumsi rokok, hasil survey ini menuai kritik dari beberapa pemerhati soal rokok, termasuk saya sendiri. Saya menganggap bahwa hasil survey dari lembaga negara ini sangat tidak masuk akal, mengapa demikian? Menurut saya, ada dua pemicu kemiskinan di indonesia yaitu, pertama soal lapangan pekerjaan yang kurang di indonesia, sehingga banyak masyarakat indonesia tidak mendapat lapangan pekerjaan (mengangur) dan jatuh miskin, kedua selain lapangan pekerjaan yang sedikit ditambah upah pekerja/buruh di indonesia sangatlah rendah sehingga masyarakat indonesia jatuh pada jurang kemiskinan. Jika dibandingkan dengan upah di beberapa negara di asia tenggara, indonesia mendapat posisi 3 terendah di asia tenggara dengan upah Rp 3,67 juta/bulan dari kamboja Rp 2,52 juta/bulan dan laos Rp 2,12 juta/bulan. Upah di indonesia pun tidak semua sama, upah disesuaikan di masing-masing provinsi, upah buruh di banyak wilayah di indonesia berkisar Rp 1-2 juta. Dari uapah yang rendah itu sangat menyulitkan masyarakat indonesia memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika kita mau hitung-hitungan kebutuhan masyarakat tiap harinya dengan upah yang dihasilkan, sangat memprihatinkan, karena tidak sesuai dengan kehidupan layak. 

Pemerintah Indonesia khsusnya kementrian tenaga kerja, merumuskan peraturan presiden no. 78 tentang penetapan upah. dalam penetapan upah yaitu dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan inflasi berlaku di semua provinsi di Indonesia. Hal inilah yang memicu kemiskinan di Indonesia, bukan karena masyarakatnya perokok. Justru banyaknya perokok di indonesia maka pendapatan negara melalui cukai rokok sangatlah tinggi, pemerintah harusnya berterima kasih kepada perokok. Dari pemaran saya diatas, maka dari itu, alasan pemerintah memasukkan point rokok sebagai pemicu kemiskinan sangatlah tidak masuk akal. Pemicu kemiskinan di indonesia adalah tidak adanya lapangan pekerjaan, dan praktek politik upah murah. Jadi, jika indonesia pengen rakyatnya tidak jatuh dalam jurang kemiskinan, harusnya membuka lapangan pekerjaan dan menaikkan upah sesuai dengan kebutuhan hidup rakyat indonesia, bukan menaikkan harga rokok, karena itu jauh berkaitan dengan rokok.   
   
3.        Meningkatkan Cukai rokok untuk pendapatan negara

Alasan yang ketiga ini, menurut saya, cukup beralasan karena negara ini mendapat defisit anggaran yang sangat tinggi dari pendapatan negara. Namun, pemerintah harus lah berhati-hati dalam menaikkan cukai rokok untuk meningkatkan pendapatan negara, karena akan memicu banyaknya perusahaan rokok dan tutup, serta inpor tembakau menurun karena pajak tinggi. Sehingga, selain petani tembakao lokal akan rugi karena banyak perusahaan rokok terancam bangkrut dan akan memPHK buruh-nya, dan juga konsumen rokok pun akan menurun. Sehingga pendapatan negara dari cukai rokok pun menrun dan target pemerintah hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Menaikkan cukai rokok, sama dengan memangkas pendapatan negara. 

Meskipun Indonesia berada pada posisi ke empat setelah china, rusia, dan amerika serikat sebagai negara konsumen rokok terbanyak di dunia. Namun, pemerintah harus lah berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan menaikkan cukai rokok. Untuk hitung-hitungan untung ruginya, saya sudah menjelaskan sedikit diatas, seperti cukai rokok yang banyak diterima oleh negara. Jadi pemerintah haruslah memperhitungkan hal ini jika negara ini.     

4.        Menekan jumlah perokok di indonesia

Mengenai hal ini, saya akan mengutif data yang dirilis tobacco atlas pada tahun 2014 mencatat 5,8 trilliun batang rokok di konsumsi di seluruh dunia. Cina di nobatkan sebagai konsumen rokok terbesar dengan jumlah mencapai 2,8 trilliun batang. Di posisi kedua ditempati Rusia, dan Amerika Serikat posisi ketiga, serta indonesia berada pada posisi ke empat. 

Meskipun negara indonesia, dengan berbagai cara untuk mengurangi angka perokok dengan membatasi area merokok, meneror perokok dengan menaruh gambar bahaya rokok, dan lain sebagai. Namun, hal ini tidak berefek sama sama sekali. Angka perokok di indonesia dari hari kehari semakin meningkat sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk indonesia. Namun hal ini tidak seperti yang saya kemukakan sebelumnya, karena jumlah perokok banyak dan sulit untuk tidak merokok, jadi pemerintah menaikkan harga rokok. Akan tetapi, jumlah rokok legal berkurang, dan rokok ilegal akan meningkat. Rokok ilegal inilah yang kemudian di konsumsi oleh para perokok sebagai alternatif dari dinaikkan harga rokok yang legal. Sehingga pendapatn negara berkurang karena beredarnya rokok ilegal, dan angka perokok ilegal akan semakin tinggi. Jadi, rencana pemerintah menaikkan harga rokok akan menjadi sia-sia saja.   

Oleh: Bustamin TaTo


belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment