Monday, September 3

Kelas Pekerja dan Revolusi Indonesia

Tulisan ini di tulis oleh Hidayat Purnama
Dari corak kehidupan buruh yang senasib dan sepenanggungan, sama dalam hal makan, tidur dan kerja, juga upah dan nasib pada umumnya, maka solidaritas dan sosialisme lebih mudah terpatri dalam gerakan buruh. Semakin sadar buruh bahwa dirinya adalah seorang manusia yang
berhak hidup atas hasil pikiran dan kerjanya, maka runtuhlah teori-teori ekonomi makro atau ekonomi politik borjuasi. Ketika ekonomi makro borjuasi runtuh, maka alternatif bentuk produksi sosialis semakin penting untuk diserap oleh perjuangan buruh.

Namun, untuk kasus Indonesia, suatu negeri yang masih ditempati oleh mayoritas petani kecil (menurut Badan Pusat Statitistik mencapai kurang lebih 70 persen), maka revolusi sosialis itu kurang lebih belum bisa dilancarkan, karena sosialisme tidak akan pernah tumbuh subur di lautan massa borjuis kecil, dan mengingat kelas petani kecil masih memiliki tanah sebagai alat produksi, karena itu tergolong kelas borjuis kecil, maka sosialisme yang tidak bisa disamakan dengan gotong royong atau tradisi-tradisi paguyuban lainnya, belum bisa sepenuhnya diserap oleh massa petani kecil sebagai mayoritas penduduk di Indonesia. Semakin banyak jumlah buruh tani di Indonesia, maka semakin cepat kelas pekerja tani menyerap gerak dan arah perjuangan kolektif dan semakin maju dalam gerakan politiknya bersama buruh manufaktur dan tambang.

Apakah kapitalisme akan menjadi matang di Indonesia, sehingga tercipta kelas pekerja industri yang meluas, dan petani kecil serta sedang semakin sedikit? Ukuran kematangan ini bisa dilihat dari investasi kapital/modal yang semakin luas di bidang pertanian, dan tampaknya cepat atau lambat, industrialisasi pertanian yang mencakup pemilikan tanah luas secara perorangan oleh borjuasi di bidang perkebunan dan pertanian, akan semakin nyata mengingat lemahnya posisi petani di hadapan pasar pertanian global dan rencana-rencana industrialisasi padi di Indonesia. Selain itu, investasi yang terus meluas di bidang pertambangan akan terus menggusur tanah-tanah pertanian dalam masyarakat semi feodal dan kesukuan (maksudnya bentuk pemilikan tanah yang masih kabur dan dilingkupi suku).

Jika industri pertanian dan tambang itu semakin banyak memerlukan tenaga kerja, namun tidak cukup menampung perkembangan jumlah penduduk dari masyarakat petani yang tergusur dan mengalami kemunduran produksinya, maka akan semakin banyak massa pengangguran dari masyarakat petani dan menjadi cadangan kelas pekerja kurang ahli yang mudah menjadi pekerja sektor informal di pinggiran kota atau di kota-kota besar. Massa pengangguran yang luas ini akan memasuki sektor-sektor kerja informal dan kriminal (seperti buruh migran terutama yang illegal, buruh harian, pedagang kecil, kaki lima dan asongan, bahkan pengamen, pelacur, jambret, garong dan sebagainya).

Pada tahap pematangan kapitalisme Indonesia yang terkait erat dengan kapitalisme global atau imperialisme, maka hukum-hukum kapitalisme akan semakin nyata berlaku di Indonesia, terutama menyangkut semakin besarnya jumlah buruh dan cadangan buruh, kemelut ekonomi rutin, dan perkembangan gerakan politk kelas pekerja. Gejala-gejala ini tampak dengan menjamurnya gerakan buruh di kota-kota industri, perlawanan petani dan masyarakat kesukuan atas perampasan tanah oleh perusahaan perkebunan dan tambang, penggusuran pedagang kaki lima dan kampung-kampung kumuh dari kaum miskin kota. Tak bisa dipungkiri pula bahwa nusantara ini adalah negeri kepulauan, sehingga masalah-masalah persatuan perjuangan juga menyangkut kekuatan sumber kelautan dan tanpa penguasaan kelas pekerja atas kendala-kendala kelautan ini, maka akan sulit pula kesatuan perjuangan dari pelbagai sektor kelas pekerja akan terwujud.

Kondisi ini tentu saja tidak akan pernah mundur karena dengan sumber daya alam dan jumlah massa pekerja yang banyak, kelas kapitalis nasional dan internasional akan semakin melihat keuntungan besar dari ekonomi politiknya, melalui penyerapan atau kerja sama dengan unsur-unsur kekuasaan lama seperti feodalisme, fasisme dan yang terkuat tentu saja militerisme. Dengan demikian, sosialisme ilmiah sangat penting bagi kelas pekerja Indonesia sebagai panduan perjuangan politiknya dalam merebut kedaulatan dan mewujudkan kesejahteraannya, bukan dengan penyimpangan yang mencoba mendamaikan kepentingan yang bertentangan antara kelas pekerja dan kelas penguasa (kapitalis nasional dan internasional, pejabat tinggi dari sipil dan militer yang juga menjadi kapitalis "dunia ketiga") atau hanya terpaku pada kepentingan ekonomi yang memisahkan sepenuhnya dengan kepentingan politik sebagai masalah-masalah kedaulatan yang konkrit. Kendala lainnya adalah sisipan yang mengganjal dari anarkisme borjuis kecil perkotaan dan liberalisme individual dari ideologi borjuasi. Pada akhirnya, sosialisme ilmiah akan menjadi panduan revolusioner bagi kelas pekerja Indonesia, suatu pandu revolusi kelas pekerja sebagai perjuangan terakhir dan terberat bagi kelas pekerja dalam merebut kedaulatan ekonomi politik dan membangun negeri sosialis yang hidup sejalan dengan gerakan sosialisme internasional. Dengan revolusi ini, kekuatan produksi sepenuhnya akan dikerjakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan kelas pekerja melalui solusi konkrit untuk masalah hubungan sosial produksi di atas kekuatan produksi (tanah, air dan isinya). Dengan revolusi, negara kelas pekerja akan didirikan di bumi pertiwi.






belajar selagi muda, berjuang selagi bisah
Bagikan Ki Bro:
Post a Comment